RSS

MAKALAH ANAK DENGAN GANGGUAN INTELEKTUAL (TUNAGRAHITA)

18 Sep

MAKALAH
ANAK DENGAN GANGGUAN INTELEKTUAL
(TUNAGRAHITA)
Disusun untuk Memenuhi Tugas Pendidikan Inklusi
Dibimbing oleh Ibu Siti Istiyati, M.pd.

Disusun Oleh :

1 SIWI ARYANTO K7108061
2 TAUFIK MALENDRA K7108239
3 VERONIKA KRISTI ROSARI K7108249
4 YOGI HESTUAJI K7108260

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2010
KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik serta hidayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Anak dengan Gangguan Intelektual (Tunagrahita)” ini.
Makalah ini disusun dari berbagai sumber yang ada sangkut pautnya dengan materi makalah ini, baik itu yang bersifat umum maupun yang bersifat khusus. Semuanya demi kesempurnaan isi makalah ini.
Akhirnya penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, baik dari segi isi maupun penulisan, untuk itu saran dan kritik yang membangun sangat kami perlukan untuk memperbaiki makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi rekan-rekan yang membaca.

Surakarta, …….……….………… 2010

Penulis

A. PENGERTIAN ANAK TUNA GRAHITA
Istilah untuk anak tunagrahita bervariasi, dalam bahasa Indonesia dikenal dengan nama : lemah pikiran, terbelakang mental, cacat grahita dan tunagrahita.
Dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama Mentally Handicaped, Mentally Retardid. Anak tunagrahita adalah bagian dari anak luar biasa. Anak luar biasa yaitu anak yang mempunyai kekurangan, keterbatasan dari anak normal. Sedemikian rupa dari segi: fisik, intelektual, sosial, emosi dan atau gabungan dari hal-hal tadi, sehingga mereka membutuhkan layanan pendidikan khusus untuk mengembangkan potensinya secara optimal.
Jadi anak tunagrahita adalah anak yang mempunyai kekurangan atau keterbatasan dari segi mental intelektualnya, dibawah rata-rata normal, sehingga mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik, komunikasi, maupun sosial, dan karena memerlukan layanan pendidikan khusus.
B. KLASIFIKASI ANAK TUNA GRAHITA
Potensi dan kemampuan setiap anak berbeda-beda demikian juga dengan anak tunagrahita, maka untuk kepentingan pendidikannya, pengelompokkan anak tunagrahita sangat diperlukan. Pengelompokkan itu berdasarkan berat ringannya ketunaan, atas dasar itu anak tungrahita dapat dikelompokkan.
1. Tunagrahita Ringan (Debil)
Anak tunagrahita ringan pada umumnya tampang atau kondisi fisiknya tidak berbeda dengan anak normal lainnya, mereka mempunyai IQ antara kisaran 50 s/d 70. Mereka juga termasuk kelompok mampu didik, mereka masih bisa dididik (diajarkan) membaca, menulis dan berhitung, anak tunagrahita ringan biasanya bisa menyelesaikan pendidikan setingkat kelas IV SD Umum.
2. Tunagrahita Sedang atau Imbesil
Anak tunagrahita sedang termasuk kelompok latih. Tampang atau kondisi fisiknya sudah dapat terlihat, tetapi ada sebagian anak tunagrahita yang mempunyai fisik normal. Kelompok ini mempunyai IQ antara 30 s/d 50. Mereka biasanya menyelesaikan pendidikan setingkat ke;las II SD Umum.
3. Tunagrahita Berat atau Idiot
Kelompok ini termasuk yang sangat rendah intelegensinya tidak mampu menerima pendidikan secara akademis. Anak tunagrahita berat termasuk kelompok mampu rawat, IQ mereka rata-rata 30 kebawah. Dalam kegiatan sehari-hari mereka membutuhkan bantuan orang lain.
Contoh perbedaan kemampuan belajar dan penyelesaian tugas anak tunagrahita berdasarkan ekuivalensi usia kalender (CA) dengan Usia Mental (MA) sebagai berikut:

Nama Umur (CA) IQ Umur kecerdasan (MA) Kemampuan mempelajari dan melakukan tugas
Si A 10 th 100 10 tahun Ia tidak kesulitan mempelajari kemampuan tugas-tugas seumurnya karena CA-nya, sama dengan MA-nya (normal)

Si B 10 th 70-55 7-5,5 tahun Ia dapat mempelajari materi pembelajaran/tugas anak usia 5,5 tahun sampai dengan 7 tahun
Si C 10 th 55-40 5,5-4 tahun Ia dapat mempelajari materi pembelajaran/tugas anak usia 4 tahun sampai dengan 5,5 tahun
Si D 10 th 40-25 4 th -2,5 tahun Ia dapat mempelajari materi pembelajaran/tugas anat usia 4 tahun sampai 2,5 tahun
Si E 10 th 25 ke 2,5 tahun ke bawah Ia dapat mempelajari materi pembelajaran/tugas anak usia 2,5 tahun ke bawah
C. KARAKTERISTIK ANAK TUNAGRAHITA
Karakteristik atau ciri-ciri anak tunagrahita dapat dilihat dari segi :
1. Fisik (Penampilan)
1) Hampir sama dengan anak normal
2) Kematangan motorik lambat
3) Koordinasi gerak kurang
4) Anak tunagrahita berat dapat kelihatan
5) Penampilan fisik tidak seimbang, misalnya kepala terlalu kecil/besar,
6) Kordinasi gerakan kurang (gerakan sering tidak terkendali)
2. Intelektual
1) Sulit mempelajari hal-hal akademik.
2) Anak tunagrahita ringan, kemampuan belajarnya paling tinggi setaraf anak normal usia 12 tahun dengan IQ antara 50 – 70.
3) Anak tunagrahita sedang kemampuan belajarnya paling tinggi setaraf anak normal usia 7, 8 tahun IQ antara 30 – 50
4) Anak tunagrahita berat kemampuan belajarnya setaraf anak normal usia 3 – 4 tahun, dengan IQ 30 ke bawah.
3. Sosial dan Emosi
1) Bergaul dengan anak yang lebih muda.
2) Suka menyendiri
3) Mudah dipengaruhi
4) Kurang dinamis
5) Kurang pertimbangan/kontrol diri
6) Kurang konsentrasi
7) Mudah dipengaruhi
8) Tidak dapat memimpin dirinya maupun orang lain.
9) Tidak dapat mengurus diri sendiri sesuai usia,
10) Tidak ada/kurang sekali perhatiannya terhadap lingkungan
Adapun Anak tunagrahita mempunyai karakteristik lainnya seperti:
 mempunyai tingkat kecerdasan di bawah rata-rata.
 mengalami kesulitan untuk mempelajari yang sifatnya abstrak
 cepat lupa
 harus di ulang-ulang dalam pelajaran
 mengalami kesulitan merawat dirinya sendiri
 mengalami kelainan downsindrom
Ketunagrahitaan mengacu pada intelektual umum yang secara signifikan berada di bawah rata-rata. Para tunagrahita mengalami hambatan dalam tingkah laku dan penyesuaian diri. Semua itu berlangsung atau terjadi pada masa perkembangannya.
Seseorang dikatakan tunagrahita apabila memiliki tiga indikator, yaitu:
1) Keterhambatan fungsi kecerdasan secara umum atau di bawah rata-rata,
2) Ketidakmampuan dalam prilaku sosial/adaptif, dan
3) Hambatan perilaku sosial/adaptif terjadi pada usia perkembangan yaitu sampai dengan usia 18 tahun.
Kebutuhan Pembelajaran Anak Tunagrahita:
a. Perbedaan tunagrahita dengan anak normal dalam proses belajar adalah terletak pada hambatan dan masalah atau karakteristik belajarnya.
b. Perbedaan karakteristik belajar anak tunagrahita dengan anak sebayanya, anak tunagrahita mengalami masalah dalam hal yaitu:
a. Tingkat kemahirannya dalam memecahkan masalah
b. Melakukan generalisasi dan mentransfer sesuatu yang baru
c. Minat dan perhatian terhadap penyelesaian tugas.

D. FAKTOR PENYEBAB ANAK TUNAGRAHITA
Faktor -faktor penyebab terjadinya tunagrahita
1. Prenatal (sebelum lahir)
Adalah proses sebelum dilahirkan (dalam kandungan)
 Adanya faktor genetika
 Ibu waktu hamil perokok berat dan minuman keras
 Ibu yang mengalami depresi berat
 Ibu mengalami kecelakaan waktu hamil (benturan)
 Ibu hamil yang kekurangan gizi
 Ibu hamil pemakai obat-obatan (naza)
 Campak
 Diabetes
 Cacar
2. Natal (waktu lahir)
Adalah proses ibu melahirkan yang
 Sudah terlalu lama, dapat mengakibatkan kekurangan oksigen pada bayi,
 Tulang panggul ibu yang terlalu kecil dapat menyebabkan otak terjepit dan menimbulkan pendarahan pada otak (anoxia),
 Sewaktu melahirkan menggunakan alat bantu (penjepit, tang)
 Melahirkan belum waktunya (prematur)
 Ibu yang mempunyai penyakit kelamin
3. Pos natal (sesudah lahir)
Adalah setelah ibu melahirkan
 Anak mengalami kecelakaan (jatuh mengenai bagian kepala)
 Anak mengalami gizi buruk, busung lapar, demam tinggi yang disertai kejang-kejang
 radang selaput otak (meningitis) dapat menyebabkan seorang anak menjadi ketunaan (tunagrahita).
E. PELAYANAN ANAK TUNAGRAHITA
Berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 bahwa setiap warga negara berhak untuk mendapatkan pengajaran. Demikian halnya dengan anak tunagrahita berhak untuk mendapatkan pendidikan. Sekolah-sekolah untuk melayani pendidikan anak luarbiasa (tunagrahita) yaitu Sekolah Luar Biasa (SLB) atau sekolah berkebutuhan khusus.
Sekolah untuk anak luar biasa terdiri dari :
1. SLB – A untuk anak Tunanetra
2. SLB – B untuk anak Tunarungu
3. SLB – C untuk anak Tunagrahita
4. SLB – D untuk anak Tunadaksa
5. SLB – E untuk anak Tunalaras
6. SLB – F untuk anak Berbakat
7. SLB – G untuk anak cacat ganda
Pelayanan pendidikan bagi anak tunagrahita/retadasi mental dapat diberikan pada:
1) Kelas Transisi.
Kelas ini diperuntukkan bagi anak yang memerlukan layanan khusus termasuk anak tunagrahita. Kelas tansisi sedapat mungkin berada disekolah regler, sehingga pada saat tertentu anak dapat bersosialisasi dengan anak lain. Kelas transisi merupakan kelas persiapan dan pengenalan pengajaran dengan acuan kurikulum SD dengan modifikasi sesuai kebutuhan anak.
2) Sekolah Khusus (Sekolah Luar Biasa bagian C dan C1/SLB-C, C1).
Layanan pendidikan untuk anak tunagrahita model ini diberikan pada Sekolah Luar Biasa. Dalam satu kelas maksimal 10 anak dengan pembimbing/pengajar guru khusus dan teman sekelas yang dianggap sama keampuannya (tunagrahita). Kegiatan belajar mengajar sepanjang hari penuh di kelas khusus. Untuk anak tunagrahita ringan dapat bersekolah di SLB-C, sedangkan anak tunagrahita sedang dapat bersekolah di SLB-C1
3) Pendidikan Terpadu.
Layanan pendidikan pada model ini diselenggarakan di sekolah reguler. Anak tunagrahita belajar bersama-sama dengan anak reguler di kelas yang sama dengan bimbingan guru reguler. Untuk matapelajaran tertentu, jika anak mempunyai kesulitan, anak tunagrahita akan mendapat bimbingan/remedial dari Guru Pembimbing Khusus (GPK) dari SLB terdekat, pada ruang khusus atau ruang sumber. Biasanya anak yang belajar di sekolah terpadu adalah anak yang tergolong tunagrahita ringan, yang termasuk kedalam kategori borderline yang biasanya mempunyai kesulitan-kesulitan dalam belajar (Learning Difficulties) atau disebut dengan lamban belajar (Slow Learner).
4) Program Sekolah di Rumah.
Progam ini diperuntukkan bagi anak tunagrahita yang tidak mampu mengkuti pendidikan di sekolah khusus karena keterbatasannya, misalnya: sakit. Proram dilaksanakan di rumah dengan cara mendatangkan guru PLB (GPK) atau terapis. Hal ini dilaksanakan atas kerjasama antara orangtua, sekolah, dan masyarakat.
5) Pendidikan Inklusif.
Sejalan dengan perkembangan layaan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus, terdapat kecenderungan baru yaitu model Pendidikan Inklusi. Model ini menekankan pada keterpaduan penuh, menghilangkan labelisasi anak dengan prinsip “Education for All”. Layanan pendidikan inklusi diselenggarakan pada sekolah reguler. Anak tunagrahita belajar bersama-sama dengan anak reguler, pada kelas dan guru/pembimbing yang sama. Pada kelas inklusi, siswa dibimbing oleh 2 (dua) oarang guru, satu guru reguler dan satu lagu guru khusus. Guna guru khusus untuk memberikan bantuan kepada siswa tunagrahita jika anak tersenut mempunyai kesulitan di dalam kelas. Semua anak diberlakukan dan mempunyai hak serta kewajiban yang sama. Tapi saat ini pelayanan pendidikan inklusi masih dalam tahap rintisan.
6) Panti (Griya) Rehabilitasi.
Panti ini diperuntukkan bagi anak tunagrahita pada tingkat berat, yang mempunyai kemampuan pada tingkat sangat rendah, dan pada umumnya memiliki kelainan ganda seperti penglihatan, pendengaran, atau motorik. Program di panti lebih terfokus pada perawatan. Pengembangan dalam pati ini terbatas dalam hal:
a. Pengenalan diri
b. Sensori motor dan persepsi
c. Motorik kasar dan ambulasi (pindak dari satu tempat ke tempat lain)
d. Kemampuan berbahasa dan komunikasi
e. Bina diri dan kemampuan sosial.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 18, 2011 in Uncategorized

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: