RSS

Presentasi kel8. model pembelajaran konstektual

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 18, 2011 in Uncategorized

 

RENCANA PELKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
MODEL PEMBELAJARAN TERPADU
SEKOLAH DASAR

Materi pembelajaran :Bencana alam (lingkungan)
Kelas/semester :IV / II
Alokasi waktu :2 x 35 menit
Hari / tanggal :Rabu ,13 april 2011

I. Standar kompetensi
IPA :10.memahammi perubahan lingkungan fisik dan pengaruhnya terhadap daratan
IPS :2.Mengenal sumber daya alam ,kegiatan ekonomi,dan kemajuan teknologi di lingkungan kabupaten / kota dan profinsi
Pkn :4. Mengenal sistem pemerintahan tingkat pusat

II. Kompetensi dasar
IPA : 10.2 Menjelaskan pengaruh perubahan lingkungan fisik terhadap daratan (erosi,abrasi,banjir dan longsor)
IPS : 2.4 Mengenal permasalahan sosial di daerahnya
Pkn : 4.1Memberi contoh sederhana pengaruh gloalisasi di lingkungannya

III. Indikator
IPA :10.2.1 Dapat menjelaskan perubahan lingkungan yang bisa menimbulkan bencana alam
IPS :2.4.1 Dapat mengidentifikasi permasalahn sosial akibat adanya bencana alam
Pkn :4.1.2 Dapat menentukan sikap guna membantu korban bencana alam

IV. Tujuan pembelajaran
IPA ;Melalui tanya jawab siswa dapat menyebutkan perubahan lingkungan yang bisa menimbulkan bencana alam degan tepat
IPS :Melalui pengamatan video siswa dapat mengidentifikasi permasalahan sosial akibat adanya bencana alam dengan benar
Pkn :melalui diskusi kelompok siswa dapat menentukan sikap guna membantu korban bencana alam dengan benar

V. Dampak pengiring
Setelah peembelajaran ini selesai,diharapka siswa dapat mengantisipasi dan meminimalisir kerugian akibat bencana alam serta dapat menentukan sikap untuk membantu korban bencana alam
VI. Materi pembelajaran
IPA
Perubahan daratan dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperi hujan angin,cahaya matahari,dan gelombang laut.ujan yang trun brhari hari bisa menyebabkan banjir.Banjir bandang termasuk salah satu bencana alam yang merugikan masyarakat.Banjir yang melewati daerah di dataran tinggi / lahan miring bisa mengkaibatkan tanah longsor.
Perubahan daratan ini juga bisa di sebabkan karena gunung meletus .Gunung yang meletus mengeluarkan lava pijar yang bisa menghanguskan rumah dan hewan piaraan warga.

IPS
Masalah sosial adalah masalah –masalah yang terjadi di lingkungan sekitar dan berkaitan dengan orang yang banyak.
Macam macam masalah sosial di antarannya:
1. Masalh penduduk
Meliputi jumlah penduduk yang besar yang berakibat banyajnya gelandangan
2. Masalh pengangguran
3. Masalah kemiskinan
4. Masalah kejahatan dan kriminalitas

Pkn
Manusia adalah makhluk sosial artinya adalah manusia itu tidak bisa hidup sendiri,ia selalu mebutuhkan bantuan orang lain dalam meemnuhi kebutuhan hidupnya.Untuk itu kita harus saling membantu dengan orang lain terlebih dengan para korban bencana alam.Bantuan yang kita berikan bisa mengurangi beban penderitaan dan kesedihan para korban.
Bantuan dapat berupa buku buku sekolah,baju pantas pakai ,mie instan ,dan selimut maupun obat obatan.Tetapi di sini yang tidak kalah penting adalah trauma hilling (yaitu usaha pengobatan trauma anak yang tergncang akibat bencana alam).Doa dan semangat dalam menjalani kehidupan yang terkena musibah supaya bisa sabar dan tegar.

VII. Kegiatan pembelajaran

No Kegiatan Waktu Metode
1 Kegiatan Awal
– Mengucapkansalam,berdoa,presensi,mengkondisikan siswa
– Apersepsi; guru menyampaikan puisi tentag bencana alam
– Motivasi
Guru memotivasi siswa agar rajin belajar
– Menyampaikan tujuan pembelajaran 10 menit -Ceramah

2 Kegiatan inti
A.Eksplorasi
 Guru menggali pengetahuan siswa tentang jenis-jenis bencana alam yang mereka ketahui
 Siswa mengacung tangan dan menuliskan jawaban di papan tulis

B.Elaborasi
 Siswa di bagi ke dalam beberapa kelompok kecil beranggotakan 5 orang dengan anggota yang bervariasi
 Tiap kelompok berkumpul untuk menyaksikan video tentang musibah / bencana alam
 Siswa mengidentifikasi masalah sosial yang timbul akibat bencana alam (dari tayangan video)
 Siswa menentukan sikap dan hal hal yang bisa mereka lakukan untuk membantu korban bencana alam
 Mencatat hasil diskusi dan melaporkan
 Kelompok lain memberi komentar hasil diskusi kelompok lain

C.konvirmasi :
 Guru memberi konfirmasi dan penguatan bagi tiap tiap kelompok atas keberhasilannya
 Guru meluruskan pengetahuan siswa jika kurang tepat 10 menit

35 menit

tanya jawab

Diskusi penugasan
pengamatan
3 Kegiatan Akhir
 Guru bersama siswa membuat rangkuman dan kesimpulan dari hasil pembelajaran
 Refleksi kepada siswa yang belum jelas
 Evaluasi
 Penyampaian pesan moral 17menit Ceramah
Tanya jawab
Penugasn

VIII. Model , Metode, Media , Sumber Belajar
A. Model : terpadu
B. Metode : ceramah,tanya jawab,diskusi,penugasan dan pengamatan.
C. Media : video tentang bencana alam.
D. Sumber belajar :
 Silabus SD kelas IV , penerbit grasindo.
 Heri sulistyanto, edi wiyono 2008. Ilmu pengetahaun alam untuk
 SD?MI kelas IV. jakarta : pusat perbukuan DEPDIKNAS ( 167-171)
 Ressi Kartika Dewi,Sunny Ummul Firdaus, Wahyuningsih Widayati.2008 Pendidikan Kewarganegaraan 4 Jakarta : Pusat Perbukuan DEPDIKNAS ( 50 – 57 ) .
 Tantya hisnu P.Winardi.2008. Ilmu Pengetahuan Sosial 4 Jarkarta : Pusat Pendidikan DEPDIKNAS ( 179 – 181 )
IX. Penilaian
1. Prosedur tes : tes proses , tes akhir
2. Jenis tes : tes unjuk kerja ,tes tertulis
3. Bentuk tes : uraian
4. Alat tes : – LKS
– soal
– kunci jawaban
Dosen Pembimbing

Hadiyah ,M.Pd
NIP Surakarta, 28 Maret 2011
Mahasiswa

Kelompok I
1. Raras
2. Rasito
3. Sidik
4. Siti
5. Siwi

Lampiran
Soal evaluasi

1. Angin yang bertiup sangat kenccang dan menyebabkan tumbangnyya pohon – pohon disebut…
2. Gunung meletus bisa mengeluarkan bahan material panas yang disebut…
3. Hujan lebat yang terjadi terus menerus bisa menyebabkan…
4. Banjir dan longsor bisa dicegah dengan uoaya penaman kembali hutan gundul yang disebut…
5. Pada lahan mirinng disebut …..untuk mengurangi longsor.
6. Melihat korban bencana alam,hati nurani merasa….
7. Salah satu masalah sosial yanga timbul akibat terjangan badai yang dasyat adalah..
8. Terjadinya kelaparan dan pengungsian yang berkepanjangan di jepang akiabat bencara…
9. Sebagai pelajaran,sikap yang perlu dibangaun untuk membantu korban bencana alam adalah…\
10. Kebakaran hutan dan terjadinya banjir banyak disebabkan oleh ulah….

Kunci jawaban
1.badai
2. badai
3. banjir
4. reboisasi
5. sengkedan 6. Sedih
7. Pengungsian
8. Tsunami
9. Memupuk persatuan & kesatuan
10. Manusia

Kriteria penilaian
N : jawaban benar x 10
Skor maksimum = 10 x 10
= 100

Lampiran
Lembara penilaian unjuk kerja siswa
no Nama Indikator Jumlah siswa Rata – rata
1 2 3 4

Keterangan indikator
1. Kerja sama
2. Keaktifan
3. Menghargai pendapat teman
4. Menyampaikan hasil ( perfomansi ) Pedoman penilaian
1, A = 30 – 100
2. B = 75 – 89
3. C = 55 – 74
4. D = ≤ 54

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 18, 2011 in Uncategorized

 

RPP IPS SD kelas 3 smt 2

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

MODEL PEMBELAJARAN : KONTEKSTUAL
MATA PELAJARAN : IPS
KELAS/SEMESTER : III/ 2
TEMA :KEGIATAN

Disusun Oleh :
TAUFIK MALENDRA
K7108239
VF
15

S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2011

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

SD/MI : . . . .
Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
Keterampilan : bertanya dasar dan lanjut
Tema : Kegiatan
Kelas/Semester : III/2
Alokasi Waktu : 45 menit
Standar Kompetensi : Memahami jenis pekerjaan dan penggunaan uang.

A. Kompetensi Dasar :
Mengenal penggunaan uang sesuai dengan kebutuhan.
B. Indikator:
1. Kognitif
a. Mengenal jenis uang yang beredar di masyarakat
b. Menjelaskan kegunaan uang dalam kehidupan sehari-hari.
c. Menjelaskan cara mengelola uang agar menjadi lebih berarti.
d. Menyebutkan manfaat mengelola uang dengan baik.
2. Afektif
a. Mengidentifikasi bentuk uang.
b. Mengidentifikasi nominal uang.
3. Psikomotor
a. Menunjukkan proses penggunaan uang
b. Membuat karangan tentang menabung
C. Tujuan Pembelajaran:
1. Kognitif
a. melalui tanya jawab siswa dapat menjelaskan pengertian uang dengan benar
b. Melalui tanya jawab siswa dapat menyebutkan minimal 3 kegunaan uang dalam kehidupan sehari-hari.
c. Melalui informasi guru siswa dapat menggunakan uang secara hemat agar lebih berarti dalam kehidupan sehari-hari.
d. Melalui tanya jawab siswa dapat menjelaskan cara mengelola uang dengan baik dalam kehidupan sehari-hari.
2. Afektif
a. melalui uang kertas dan uang logam siswa dapat mengidentifikasi nilai nominal uang yang beredar di masyarakat dengan benar.
b. melalui uang kertas dan uang logam siswa dapat menunjukkan nilai nominal uang yang beredar di masyarakat dengan benar.
3. Psikomotor
a. Melalui penugasan siswa dapat mendemonstasikan proses jual beli dengan menggunakan uang dengan benar.
b. Melalui penugasan siswa dapat membuat cerita secara singkat tentang manfaat menabung dalam kehidupan sehari-hari
D. Tujuan Latihan
1. Melatih simulator untuk meningkatkan penampilannya di depan kelas dalam ketrampilan bertanya dasar dan keterampilan bertanya lanjut
2. Melatih simulator untuk menguasai komponen-komponen bertanya dasar yang meliputi
a. Pengungkapan pertanyaan secara jelas
b. Pemberian acuan
c. Pemusatan
d. Pemindahan giliranpenyebaran
e. Pemberian waktu berpikir pemberian tuntutan
3. Melatih simulator untuk menguasai komponen-komponen bertanya lanjutr yang meliputi:
a. Pengubahan tuntutan tingkatan kognitif dalam menjawab pertanyaan
b. Pengaturan urutan pertanyaan
c. Penggunaan pertanyaan pelacak
d. Peningkatan terjadinya interaksi
E. Dampak Pengiring
Setelah pembelajaran selesai, secara bertahap siswa dapat mengelola uangnya sesuai dengan kebutuhannya dalam kehidupan sehari-hari.
F. Materi Pembelajaran
Uang dan Penggunaannya
G. Metode dan Model Pembelajaran
1. Metode Pembelajaran
a. Ceramah variasi
b. Tanya jawab
c. Demonstrasi
d. Pengamatan
e. Penugasan
2. Model Pembelajaran
e. Kontekstual
f. Terpadu
H. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran

No. Kegiatan Komponen ketrampilan
Guru Siswa
1 Pedahuluan (5 menit)
a. Salam
b. Guru menunjukkan benda, guru bertanya pernahkan melihat benda ini?
c. Tahap pengembangan. Benda apakah ini?
d. Apersepsi: pada apakah yang dimaksud dengan barter?
e. Siswa diajak bernyanyi
f. Apa yang dilakukan supaya beruntung pada nyanyian tadi?

Menjawab

menjawab •

• Pengungkapan pertanyaan secara jelas
• Pengubahan tingkat kognitif pertanyaan

• Pertanyaan ingatan

• pemusatan
2 Kegiatan inti (15 menit)
Guru bertanya
a. Siapa yang tidak diberi uang saku?
b. Apa alasannya?
c. . Digunakan untuk apa sajakah uang saku yang diberikan pada kaliyan?
d. Yang lain?
e. Apakah yang dimaksud dengan uang? Ayo siapa yang tau?
f. Anak- anak apa kah hanya uang yang digunakan sebagai alat tukar?
g. Siapakah yang membuat uang?
h. Ada berapa bentuk uang yang kamu ketahui?
i. uang apa sajakah itu?
j. apakah nilai nominal dari setiap uang sama?
k. Sebutkan nilai nominal uang logam dan kertas dengan menunjukkan uang yang sudah disediakan!
l. Berapa nilai mata uang logam yang terkeci?
m. Berapa nilai mata uang logam yang terbesar?
n. Tukarkanlah nilai mata uang Rp 1.000,00 dengan mata uang kecil yang lain
o. Apakah ada perbedaannya antara uang kertas dan uang logam?
p. adakah yang tidak setuju? Semuanya sepakat ada?
q. Bedakanlah ciri-ciri uang logam dan kertas
r. Apa saja kegunaan uang dalam kehidupan sehari-hari?
s. Dapatkah kamu member conto h cara melakukan jual beli dengan uang?
t. Demonstrasikanlah!
u. Bagaimana cara kita mengelola uang dengan baik?
v. Caranya?
w. Apa saja manfaat kita menabung?
x. Dapatkah kalian membuat rangkuman dari pelajaran tadi?
menjawab
• Meminta alasan

• Pengaturan urutan pertanyaan

• Peyebaran
• Pemberian waktu berfikir

• Penerapan

• Meminta kesepakatan pandangan
• Pertanyaaan analisis

• Memberi contoh

• klarifikasi
4. penutupan (5 menit)
a. membuat kesimpulan bersama
b. evaluasi
1) Ada berapa bentuk uang yang kamu ketahui, sebutkan!
2) Sebutkan pecahan uang logam yang kamu ketahui!
3) Samakah ciri-ciri uang kertas dengan ciri-ciri uang logam? Apa perbedaannya?
4) Sebutkan 3 kegunaan uang dalam kehidupan sehari-hari
5) Jelaskan pentingnya menabung!
c. memberikan penilaian terhadap hasil kerja siswa.
d. Memberi tugas, bagaimana seandainya saya tidak menabung?
e. memberi saran kepada siswa agar berhemat dalam menggunakan uang
f. salam penutup menjawab

I. Sumber belajar dan Media Pembelajaran
3. Sumber Belajar
a. Buku Pengetahuanku Pengetahuan Sosial SD Kelas 3, karya: Rusyanti, penerbit: Bumi Aksara, halaman 35-32.
b. Buku IPS untuk SD dan MI Kelas 3, Karya: Sunarso, Pusat Perbukuan Depdiknas, halaman
4. Media Pembelajaran
a. Uang kertas: pecahan Rp 1000,00, pecahan Rp 5000,00, pecahan Rp 10.000,00, Rp 20.000,00, Rp 50.000,00
b. Uang logam: pecahan Rp 100,00, pecahan Rp 200,00 pecahan Rp 500,00, pecahan Rp 1000,00

J. Penilaian
1. Teknik Penilaian
a. Tes Tertulis
b. Tes Lisan
2. Bentuk Instrumen
Tes Uraian
3. Soal/Instrumen
Tes Uraian
a. Ada berapa bentuk uang yang kamu ketahui, sebutkan!
b. Sebutkan pecahan uang logam yang kamu ketahui!
c. Samakah ciri-ciri uang kertas dengan ciri-ciri uang logam? Apa perbedaannya?
d. Sebutkan 3 kegunaan uang dalam kehidupan sehari-hari
e. Jelaskan pentingnya menabung!
4. Kriteria Penilaian
Skor tiap nomor yang benar : 5.

Mengetahui, Surakarta, 8 April 2011
Dosen Pembimbing, Mahasiswa,

Drs. Hadi Mulyono, M. Pd Taufik Malendra
NIP. NIM. K7108239

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 18, 2011 in Uncategorized

 

Tag:

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) MODEL PEMBELAJARAN : KONTEKSTUAL

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

MODEL PEMBELAJARAN : KONTEKSTUAL
MATA PELAJARAN : BAHASA INDONESIA
KELAS/SEMESTER : VI/ II
Disusun untuk memenuhi tugas Micro Teaching yang dibimbing
oleh Ibu Samsiyah, M.Pd dan Bapak Hadi Mulyono, M.Pd

Disusun Oleh :
TAUFIK MALENDRA
K7108239
15
6F

S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2011
SILABUS
Sekolah : SD dan MI
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas/ Semester : VI/ II
Standar Kompetensi : 2. Berbicara
Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dengan berpidato, melaporkan isi buku, dan baca puisi.

Kompetensi Dasar Indikator Diskripsi Materi Kegiatan Belajar Waktu Teknik Penilaian Kebutuhan
Mengidentifikasi berbagai unsur (tokoh, sifat, latar, tema, jalan cerita, dan amanat) dari teks drama anak • Menjelaskan tokoh-tokoh dalam drama anak dan sifat-sifatnya
• Menentukan latar drama anak dengan mengutip kalimat yang mendukung
• Menentukan tema dan amanat drama anak yang dibaca
• Memerankan tokoh-tokoh yang ada di dalam drama Teks drama anak
Unsur-unsur intrinsic drama • Mendiskusikan unsur intrinsic cerita rekaan
• Membaca teks drama anak
• Mengidentifikasi tokoh-tokoh dalam drama anak dan sifat-sifatnya
• Menentukan latar drama anak dengan mengutip kalimat atau paragraph yang mendukung
• Menentukan tema dan amanat drama anak yang di baca
• Memerankan tokoh yang ada dalam drama anak yang di baca 2 jam pelajaran Kinerja
Lisan
Buku panduan
Teks drama

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Model Pembelajaran: KONTEKSTUAL

Nama Sekolah : SD Negeri Sragen 3
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas/ Semester : VI/II
Alokasi Waktu : 2x 35 menit

A. Standar Kompetensi
Berbicara
1. Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dengan berpidato, melaporkan isi buku, dan baca puisi.
B. Kompetensi dasar
1.1 Mengidentifikasi berbagai unsur (tokoh, sifat, latar, tema, jalan cerita, dan amanat) dari teks drama anak
C. Indikator
Kognitif
1.1.1 Menjelaskan unsur-unsur intrinsik drama
1.1.2 Menunjukkan tokoh dalam drama anak dan sifatnya
1.1.3 Menunjukkan latar, alur, tema dan amanat drama anak yang diperankan teman
Afekteif
1.1.4 Menyimak pemeranan drama anak
Psikomotorik
1.1.5 Memerankan drama anak
D. Tujuan Pembelajaran
Kognitif
1. Melalui tanya jawab siwa dapat menjelaskan unsur-unsur intrinsik drama dengan benar
2. Melalui diskusi kelompok, siswa dapat menunjukkan tokoh dalam drama anak dan sifatnya yang diperankan kelompok lain dengan baik.
3. Melalui diskusi kelompok, siswa dapat menunjukkan latar, alur, tema dan amanat dalam drama anak yang di perankan kelompok lain dengan baik
Afektif
4. Melalui pemeranan drama anak, siswa dapat menyimak unsur-unsur instrinsik drama anak dengan penuh semangat dan motivasi tinggi.
Psikomotorik
5. Melalui bermain peran, siswa dapat memerankan drama anak sesuai dengan penokohannya dengan baik.
E. Dampak Pengiring
Setelah pembelajaran selesai secara bertahap siswa dapat menanggapi dan menceritakan drama yang pernah disimak ke orang lain
F. Materi Ajar
1. Memerankan Drama Anak
Bermain peran drama anak dengan penghayatan dan ekspresi gerak secara tepat. Drama merupakan karangan berupa dialog yang dipentaskan. Dalam naskah drama harus ada:
a. Cerita dialog
b. Gambaran keadaan panggung
c. Gerak-gerik pelaku, dan
d. Situasi
2. Bermain Drama
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memerankan drama
a. Pemain meresapi cerita
b. Pemain mengucap dialog secara benar
c. Pemain menirukan tingkah laku tokoh
d. Pemain menirukan pakaian tokoh
e. Pemain memahami watak tokoh
3. Menentukan Unsur Drama
Drama mempunyai unsur-unsur intrinsik, yang meliputi tokoh dan perwatakannya, latar, tema, alur/jalan cerita, dan amanat.
a. Tokoh adalah pelaku dalam drama. Perwatakan tokoh dapat diketahui melalui perkataan dan perbuatan tokoh.
b. Latar adalah tempat, waktu, dan suasana terjadinya peristiwa. Latar dibedakan atas latar waktu, latar tempat, dan latar suasana.
c. Tema adalah gagasan pokok atau ide yang mendasari pembuatan naskah drama.
d. Alur/jalan cerita adalah rangkaian peristiwa dalam cerita drama yang saling berhubungan.
e. Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan pengarang.
G. Metode dan Model Pembelajaran
1. Metode : Ceramah, diskusi, tanya jawab, bermain peran
2. Model Pembelajaran : Kontekstual
H. Langkah – Langkah Kegiatan
No. Kegiatan Waktu Metode
1 Pendahuluan
a. Salam, berdoa dan absensi
b. Apersepsi : guru bertanya jawab bersamasiswa tentang pelajaran sebelumnya tentang unsure-unsur intrinsik beserta penjelasannya
c. Motivasi: guru menceritakan dan memerankan drama anak “Bawang Merah Bawang Putih”. Kemudian guru meminta siswa menyebutkan unsur intrinsik yang terkandung di dalam cerita drama. (kontruktivisme)
d. Kompetensi: berhubungan dengan kegiatan yang telah dilakukan guru siswa, guru menyampaikan tujuan pembelajaran secara rinci kepada siswa 10 menit

Tanya jawab

Ceramah
Tanya jawab
2 Kegiatan Inti
a. Eksplorasi
• Guru bertanya jawab dengan siswa apakah pernah melihat pementasan drama, dan apa saja hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memerankan drama (questioning)
b. Elaborasi
• Guru Guru mengorganisasikan siswa menjadi 8 kelompok dimana setiap kelompok terdiri dari 3. ( learning community)
• Kegiatannya yaitu 3 mendapat tugas yaitu bermain peran dalam memerankan drama anak dengan naskah yang berbeda seperti drama anak yang berjudul “Ikrar, Membohongi Ibu, dan Rencana yang gagal”. Sementara yang 5 kelompok mendiskusikan unsur-unsur intrinsik drama anak yang diperankan kelompok lain.
• Guru membagikan naskah drama ke kelompok bermain peran untuk dipelajari sejenak, sementara kelompok yang lain dibagikan lembar diskusi
• Guru mengingatkan agar kelompok bermain peran selalu bisa memerankan dengan menjiwai dan menghayati penokohannya. Sementara yang berdiskusi agar selalu bersikap tertib dan menyelesaikan tugas dengan baik dan penuh tanggung jawab.
• Guru mengingatkan bahwa kelompok berkinerja terbaik akan mendapatkan penghargaan yaitu nilai baik.
• Guru menentukan durasi waktu untuk kegiatan kelompok sehingga semua kegiatan dapat berjalan sesuai dengan waktu yang direncanakan.
• Salah satu kelompok diminta maju memewrankan naskah drama yang sudah dipeljari, dst. (modeling)
• Kelompok lain mendiskusikan unsure-unsur intrinsic yang meliputi tokoh dan sifatnya, latar, tema dan amanatnya serta mengomentari pemain dalam hal penghayatan, ekspresikan dengan gerak-gerik dan mimik yang diperankan temannya.
• Mencatat hasil diskusi
• Mempresntasikan hasil diskusi, sementara kelompok lain boleh bertanya, menyanggah, atau pun melengkapi jawaban
• Guru meluruskan jawaban siswa
c. Konfirmasi
• Guru bersama siswa menentukan kelompok yang terbaik diberi penghargaan nilai yang baik
• Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diketahui siswa
• Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, serta memberikan penguatan kepada siswa.
• Guru memberi motivasi siswa agar rajin belajar 50 menit

Tanya jawab

Bermain peran

Diskusi kelompok

Bermain peran

Diskusi kelompok

3. Penutup
• Guru bersama siswa menyimpulkan pembelajaran yang telah berlangsung
• Guru membimbing peserta didik membuat rangkuman pembelajaran. rangkuman pembelajaran
• Melakukan evaluasi, dengan memberi beberapa pertayaan untuk dijawab siswa mengenai materi yang telah disampaikan. (authentic assesment)
• Guru memberi pesan kepada murid agar rajin belajar
• Salam penutup 10 menit

I. Media dan Sumber Belajar
1. Media Pembelajaran
a. Naskah drama
2. Sumber Belajar
a. Rusmiyati dkk. 2008. Bahasaku Bahasa Indonesia 6. Hal.93-96, Jakarta: Bumi Aksara.
b. Dwi Mardianto dkk, 2007. Gemar Berbahasa Indonesia 6. hal119-126, Semarang: Aneka Ilmu.
c. Sukini dkk. 2007. Berbahasa Indonesia 6 untuk SD/MI. hal99-106, Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
d. Samidi dkk. 2007. Berbahasa Indonesia 6 untuk SD/MI. hal111-122, Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
J. Penilaian
1. Teknik Penilaian
a. Unjuk kerja
b. Tes Lisan
2. Bentuk Instrumen
Tes Uraian
3. Soal/Instrumen
Terlampir

Surakarta, 24 Mei 2011
Mengetahui,
Dosen pembimbing,

Samsiyah, M. Pd / Hadi Mulyono, M.Pd
NIP. …………………………….
Mahasiswa,

Taufik Malendra
NIM. K7108239

Lampiran 1
Materi Pembelajaran Bahasa Indonesia
A. Menentukan Unsur Drama
Karya sastra terdiri atas tiga bentuk, yaitu puisi, prosa, dan drama. Pada pelajaran yang lalu kamu telah belajar membaca puisi. Sekarang mari belajar membaca drama. Drama berisi dialog antara beberapa tokoh disertai akting yang sesuai dengan petunjuk pemeranan. Oleh karena itu, dalam membaca drama kamu hendaknya dapat berlaku sebagai tokoh yang kamu perankan. Misalnya, jika mendapat tugas memerankan tokoh orang gila, kamu harus bisa bertingkah laku seolah-olah sebagai orang gila (baik dialog yang diucapkan maupun gerak-gerik tubuhnya). Jika mendapat tugas memerankan tokoh dokter, kamu harus bisa bertingkah laku seolah-olah sebagai dokter. Seperti halnya prosa, drama juga mempunyai unsur-unsur. Unsur-unsur dalam drama meliputi tokoh dan sifatnya, latar, tema, alur/jalan cerita, dan amanat.
1. Tokoh dan sifatnya
Tokoh adalah pelaku dalam drama. Sifat atau watak tokoh dapat diketahui dari perkataan dan perbuatannya. Misalnya tokoh yang suka memfitnah teman, memiliki sifat jahat.
2. Latar
3. Latar adalah tempat, waktu dan suasana terjadinya peristiwa. Latar dibedakan atas latar waktu, tempat, dan suasana.
b. Latar waktu, misalnya, pagi hari, siang hari, malam hari.
c. Latar tempat, misalnya, di rumah, di jalan, di sekolah, di pasar, dan sebagainya.
d. Latar suasana, misalnya suasana gembira, sedih, cemas, dan sebagainya.
3. Tema
Tema adalah gagasan pokok atau ide yang mendasari pembuatan naskah drama. Tema harus dirumuskan sendiri oleh pembaca melalui keseluruhan peristiwa dalam cerita (drama).
4. Alur atau jalan cerita
Alur adalah rangkaian peristiwa dalam cerita (drama) yang saling berhubungan. Alur terdiri atas sebagai berikut.
a. Eksposisi atau pemaparan, yaitu pengarang mulai mengenalkan tokohtokohnya.
b. Pertikaian, yaitu tahap alur yang menggambarkan mulai adanya pertikaian, baik antartokoh maupun pada diri seorang tokoh.
c. Klimaks, yaitu tahap alur yang menggambarkan bahwa persoalan yang dihadapi tokoh mencapai puncaknya.
d. Leraian, yaitu tahap alur yang menggambarkan bahwa persoalan mulai menurun.
e. Penyelesaian, yaitu tahap yang menggambarkan bahwa persoalan selesai.
Apabila tahap-tahap di atas disajikan oleh pengarang secara urut dari tahap pemaparan hingga penyelesaian, dinamakan alur maju. Apabila tahap-tahap alur di atas disajikan secara mundur, disebut alur mundur. Apabila disajikan secara gabungan antara maju dengan mundur, dinamakan alur gabungan.
5. Amanat
Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan pengarang dalam drama. Amanat berhubungan erat dengan tema. Amanat dapat dirumuskan setelah tema berhasil dirumuskan.
B. Memerankan Drama Anak
1. Memerankan Drama Anak
Bermain peran drama anak dengan penghayatan dan ekspresi gerak secara tepat. Drama merupakan karangan berupa dialog yang dipentaskan. Dalam naskah drama harus ada:
a. Cerita dialog
b. Gambaran keadaan panggung
c. Gerak-gerik pelaku, dan
d. Situasi
2. Bermain Drama
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memerankan drama
a. Pemain meresapi cerita
b. Pemain mengucap dialog secara benar
c. Pemain menirukan tingkah laku tokoh
d. Pemain menirukan pakaian tokoh
e. Pemain memahami watak tokoh
3. Bermain Peran
Bacalah naskah drama berikut ini! Kemudian pentaskanlah! Buatlah kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari tiga anak! Bermainlah dengan penuh penghayatan, serta ekspresikan dengan gerak-gerik dam mimic yang sesuai!

Lampiran 2
Teks Drama 1
Bawang Merah Bawang Putih
Para pelaku
1. Mbok Rondo Dadapan
Janda yang kejam, ibu Bawang Merah dan Bawang Putih
2. Bawang Putih
Anak tertua, rajin, dan baik hati
3. Bawang Merah
Adik Bawang putih, malas dan berbudi jelek

Ibu : (Duduk di serambi muka rumah rumah, menyisir rambutnya dan memanggil bawang putih) “ Bawang Putih…Bawang Putih.”
Bawang Putih : (Cepat-cepat mendekati ibunya)”Ya Bu. Ibu perlu ap?”
Ibu :”Putih, sapulah halaman rumah ini sampai bersih! Awas, jangan sampai ada kotoran yang masih tertinggal!”
Bawang Putih : (Menunduk ketakutan)” Baik Bu. Putih ambil sapu dulu.”
Bawang Merah: (mendekati ibunya) “Bu, Ibu. Nanti bawang merah akan bermain-main ya, Bu.”
Ibu : (Membelai rambut bawang merah)”Tentu…tentu anakku, tapi jangan lama-lama. Di hutan banyak binatang buas. Kau harus hati-hati.”
Bawang Merah: Baik, Bu. Merah akan berhati-hati. “ (Sambil menoleh ke bawang putih yang sedang menyapu halaman)” Putih, ambilkan bekalku di almari, cepat!”
Bawang Putih : “Ya, dik akan kuambilkan. “ (Masuk ke rumah mengambil bekal) “ Kau mau ke mana? Kok tergesa-gesa?”
Bawang Merah: “ Aku akan bermain ke hutan. Nanti kau harus menjemputku.”
Bawang Putih : “ Tapi.. aku masih sibuk.”
Bawang Merah: “ Baiklah.” (Mendekati Ibunya)” Ibu, Merah berangkat,”
Ibu : “ Hati-hati di jalan, Nak.”
Bawang Merah: “Ya, Bu.”
Ibu : “ Putih, ke sisni kau! Malas, menyapu saja tidak becus. Ambil air di sumber! Tanak nasi untuk adikmu!”
Bawang Putih : “ Baik, Bu.” ( Masuk ke rumah mengambil ember dan perggi ke sumber)
Bawang Putih : “ Tiba di rumah, ember berisi air, membasahi ikatan pandan yang sedang dikeringkan). Oh…!
Ibu : “Rasakan ini! Kau betul-betul bodoh….!”
Bawang Putih : “ Ampun, Bu. …hu….hu.” (menangis) “ Putih tidak sengaja.”
Ibu : “ Apa katamu…? Tidak sengaja? Enak saja kau berkata. Enak saja kau berkata. Memangnya pandan itu punyamu, ya? Ayo jemur di situ! Kau harus menunggunya sampai kering. Jangan sekali-sekali masuk ke dalam rumah mengambil makanan! Itulsh hukuman yang tepat untuk kebodohanmu.”
Bawang Merah : “( pulang dari bermain dan mendekati ibunya) “ Bu…Ibu… Lihatlah! Aku membawa bunga untukmu. Bunga itu kupetik di tepi telaga yang bening airnya. Sungguh indah\, Bu. Lain kali kita ke sana, ya? Ibu pasti senang. Kenapa Putih, Bu?”
Ibu : “ Sudahlah kau tak perlu tahu. Masuklah, anak manis. Istirahat dulu.”
Bawang Merah: “ Baik, Bu.” ( Pergi dan tidur di kamarnya)”

Teks Drama 2
Ikrar
Pemain : Ratna
Mei
Via
Waktu : Pagi hari
Tempat : Halaman sekolah

Bel tanda istirahat kedua berbunyi. Anak-anak berhamburan ke luar dari kelas. Ada yang ke kantin, ada pula yang bermain-main di halaman. Ratna, Via, Meilani menuju kursi panjang di halaman sekolah. Mereka duduk santai sambil mengobrol.
Ratna : ”Me, sebentar lagi kita akan meninggalkan sekolah ini!”
Mei : ”Iya, ya. Sebentar lagi kita tidak akan melihat senyum ramah Pak Roni dan sapaan lembut Bu Lidya.”
Ratna : ”Aku sedih, Me. Rasanya berat meninggalkan sekolah ini.” (tertunduk lesu dengan mata berkaca-kaca).
Mei : (merangkul pundak Ratna) ”Sama, Rat. Aku, Via, dan teman-teman yang lain juga begitu. Tapi kita tidak boleh cengeng.”
Via : (merentangkan kedua tangan di depan Ratna) ”Aduh… Tuan Putri, kenapa bersedih? Adakah sesuatu yang mengganggu pikiranmu, Tuan Putri?”
Mei : ”Jangan meledek begitu, Vi! Ini masalah serius.”
Via : ”Ya…ya, aku juga serius. Ada apa teman?”
Ratna : ”Aku sedih karena sebentar lagi kita akan meninggalkan sekolah tercinta ini.”
Via : ”Sedih sih sedih. Tapi kita harus berpikir ke depan. Bagaimana cara kita membanggakan hati Bapak/Ibu Guru di sekolah yang kita cintai ini. Itu yang perlu kita pikirkan.”
Mei : ”Caranya gimana, coba?”
Via : ”Kita harus bisa masuk di sekolah favorit! Makin banyak siswa SD kita yang diterima di sekolah favorit, makin banggalah Bapak/Ibu Guru. Nama SD kita pun makin cemerlang.”
Ratna : (mengangkat muka) ”Via benar. Kita harus berpandangan ke depan”.
Mei : ”Nah, begitu dong. Mulai sekarang, mari kita tingkatkan semangat belajar! Kita harus bisa masuk sekolah favorit!”
Ratna : ”Kita harus bisa membanggakan Bapak/Ibu Guru!”
Via : ”Sekarang, mari kita berikrar.” (Menggandeng tangan Ratna dan Mei. Mereka saling bergandengan tangan, membentuk lingkaran).
Ratna : ”Ikrar! Kami akan terus mencintai sekolah ini.”
Mei : ”Kami akan berusaha diterima di sekolah favorit.”
Via : ”Kami akan berusaha menjadi yang terbaik di sekolah baru.”
Ratna : ”Agar Bapak/Ibu Guru bangga pada kami.”
Ratna+Via+Mei : (Melepaskan gandengan lalu bertepuk tangan sambil bersorak) ”Hore …”
Teks Drama 3
Rencana yang Gagal
Pemain : Roni
Dandi
Bu Desi
Waktu : Pagi dan siang hari
Tempat : Halaman rumah Bu Desi dan halaman sekolah

Adegan I
Pagi itu Roni dan Dandi berangkat ke sekolah bersama-sama.
Sesampainya di depan rumah Bu Desi, mereka berhenti. Mereka
memperhatikan pohon mangga yang berbuah ranum milik Bu Desi
Roni : “Mangga itu pasti manis sekali”.
Dandi : “Ya, pasti segar sekali”.
Roni : “Bagaimana kalau kita ambil beberapa?”
Dandi : “Tidak! Lihatlah di sini terlalu banyak orang. Gimanakalo nanti malam saja?”
Roni : “Benar juga idemu. Okelah Bos kalo gitu ha … ha … ha….
Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan ke sekolah.
Adegan II
Pada waktu istirahat, Roni dan Dandi terlihat mengobrol di bangku
taman sekolah.
Roni : “Gimana nanti malam, Bos?”
Dandi : (nampak bingung)”Nanti malam apanya?”
Roni : “Ayolah, tidak usah berpura-pura begitu”.
Dand : “Benar, aku benar-benar tidak ingat”.
Roni : “Itu lho yang tadi pagi”.
Dandi : “(kaget)”Ya ampun, aku lupa. Apakah kamu serius mau mencurimangga Bu Desi?”
Roni : “Ya iyalah, gimana sih! Kenapa, kamu takut?”
Dandi : “Ku kira tadi pagi itu kamu cuma bercanda. Gimanaya?”
Roni : “Dasar kamu penakut! Masa begitu saja tidak berani!”
Dandi : “Okelah kalau begitu aku ikut”.
Roni : “Itu baru temenku ha … ha … ha … ha ….Aku punya rencana, kita menemuinya sehabis pulangmengaji saja. Kita tunggu sampai teman-teman sudahmelewati rumah Bu Desi barulah setelah kita beraksi,gimana?”
Dandi : “Terserah kamu saja, Ron. Aku ikut saja”.
Roni : “Beres kalau begitu”.Tiba-tiba datang Bu Desi menghampiri mereka
Dandi : (kaget dan takut) “Tidak Bu, saya tidak mencuri”.
Roni : (melotot ke arah Dandi)”Hus! Diam!”
Bu Desi: (tersenyum)”Ada apa Dandi? Kamu kelihatannya takut sekali melihatsaya”.
Dandi : “Tidak Bu, maafkan saya”.
Bu Desi : “Dandi, Budi, Ibu sudah tahu semuanya”.
Roni : (Tampak kaget)”Ibu sudah tahu? Dari mana?
Bu Desi : “Ibu tadi mendengar semua pembicaraan kalian”.
Dandi : (ketakutan)”Maafkan kami, Bu”.
Bu Desi : Iya, tapi lain kali kalian tidak boleh seperti itu lagi. Kalau memang kalian
menginginkan sesuatu. Mintalah secarabaik-baik”.
Roni dan Dandi : (serempak menjawab)”Baik Bu, maafkan kami”.
Bu Desi : “Oh ya, nanti sepulang sekolah kalian mampirlah kerumah Ibu. Ibu akan member
kalian mangga”.
Roni : (tersenyum dengan malu-malu).”Baik Bu, terima kasih”.
Dandi : “Iya Bu, terima kasih”.

Teks Drama 4
Membohongi Ibu
Pemain : Hasan
Badu
Ibu Hasan
\Adegan 1
Hasan dan Badu memasuki halaman dengan membawa tas sekolah. Seakan-akan baru pulang dari sekolah, padahal sebetulnya ia membolos.
Badu : “ Hasan, mengapa kamu tampak begitu murung?”
Hasan : “ Ibuku tadi melihat aku bermain-main di jalan, ketika ibuku berangkat ke pasar.”
Badu : “ Tentu dia piker bukan kamu, tapi orang lain.”
Hasan : “ masih untung kalau ia beranggapan begitu. Bagaimana kalau betul-betul melihatku? Apa yang dapat kukatakan kepada ibu?”
Badu : “ Ya, katakana saja bahwa pak guru mengizinkan kita pulang lantaran kepala kita pusing.”
Hasan : “ Tidak, tidak! Ibu tidak akan percaya. Bagaimana mungkin tiba-tiba kepala kita berdua pusing bersama-sama.”
Badu : “ Betul juga. Dia pasti tidak begitu mudah percaya dengan alasan seperti itu.”
Hasan : “ Paling baik kita mengatakan terus terang saja, apa yang telah kita lakukan bersama.
Badu : “ Begini San, kalau kita katakana bahwa yang dia lihat itu bukan engkau, tetapi katakanlah si Rahim, salah seorang teman sekelas kita, bagaimana?”
Masuk Ibu Hasan dengan membawa barang-barang belanjaan.
Ibu : “ Ke mana saja kalian berdua pagi ini?”
Badu : “ Kami baru saja pulang dari sekolah.”
Ibu : “ Kamu bersama Hasan? Saya lihat kaliyan berdua bermain di jalan pada waktu jam pelajaran.”
Hasan : “ (Berbisik pada Badu) “ Katakan saja terus terang.” (Badu menggeleng)
Badu : “ ( Yang ibu lihat itu bukan Hasan tetapi anak lain yang mirip Hasan.”
Ibu : “ O, begitu. Saya percaya deh, tetapi apa yang kamu kerjakan Badu, bersama anak itu di jalan?”
Badu : “ Saya…oya, Pak Guru mengatakan kepada saya agar mengan tarkan si Rahim pulang karena sakit perut.”
Ibu : “ Oh, begitu…?
Hasan : “ Benar Bu, bukan saya yang ibu lihat tapi Rahim.”
Ibu : “ Apakah kamu yakin itu?”
Badu : “ Betul saya yakin.”
Ibu : “ Kalau begitu saya ingin melihat anak itu benar benar si Rahim.”
Badu : “ Dia tidak dapat datang kemari karena sakit perutnya.”
Ibu : “ Mengapa tidak? Saya telah melihat dia bermain-main di jalan. Sudah sembuh sakit perutnya.”
Hasan : “ Tapi saya harus makan dulu.”
Ibu : “ Engkau tidak boleh makan sebelum dapat membawa anak itu kemari. Sekarang pergi.”
Ibu masuk ke dalam rumah.
Hasan : “ Ini semua gara-gara kamu. Bagaimana kita dapat membawa si Rahim selama anak itu hanya ada dalam khayalanmu? Membawa sembarangan anak, tetapi mana bisa mirip aku?”
Badu : “ Sebodohlah apa yang mau kamu lakukan. Tapi, tunggu saya mau makan dulu.
Hasan : “ Tidak, kamu tidak boleh makan dulu sampai dapat menolongku.”
Badu : “ Tunggu, aku tahu. Mari kita pergi ke semak-semak sana dan mengganti pakaian kita. Kamu mengenakan pakaianku dan aku mengenakan pakaianmu. Ayo.
Hasan : “ Buat apa?”
Badu : “ Begini. Bila kita kembali, kamu dapat mengatakan bahwa kamulah Rahim.”
Hasan : “ Lebih kita berkata terus terang sajalah, Du.”
Badu : “ Jangan gusar. Kita coba lagi. Masih ada peluang membohongi ibumu.”

Lampiran 3
Lembar Diskusi Kelompok:

1. Diskusikanlah dengan teman sekelompokmu! Jelaskan secara singkat unsur intrinsik yang terkandung dalam drama anak yang diperankan teman!
No. Unsur intrinsik Judul Drama
Ikrar Membohongi Ibu Rencana yang gagal
1. Penokohan dan sifat sifatnya

2. Latar

3. Alur

5 Tema

6 Amanat

Lampiran 4
Soal dan Penilaian
A. Soal
Bacalah penggalan drama di bawah ini
Eka : “(Menghampiri Doni dengan menyandang tas sekolah di punggung) Don, ayo berangkat! Nanti keburu hujan!”
Doni : (Memindahkan bola dengan kedua tangannya).”Males, Ka. Masa, dari dulu sampai sekarang les melulu. Kapan main bolanya?”
Eka : ”Jangan begitu, Don! Les itu kebutuhan siapa, coba? Kebutuhan kita sendiri, ‘kan?”
Doni : ”Masa, dari dulu hanya latihan mengerjakan soal-soal terus. Bosan, ah.”
Eka : ”Itu semua untuk mempersiapkan kita menghadapi UAS dan UAN. Kalau sampai nggak lulus, baru tahu rasa kau, Don!”
Doni : ”Haaah, peduli amat! Sana, sana, pergi sendiri aja! Aku mau main bola dulu!”
Eka : ”Oke, kalau begitu. Aku berangkat dulu.”
Doni : ”Silakan! Selamat mengerjakan soal-soal, Ka!” (Ha … ha … ha)
Ibu : (Keluar dari dalam rumah) ”Ini hari Rabu, pukul setengah tiga. Bukankah kamu seharusnya les IPA , Don? Kenapa tidak masuk!”
Doni : (Menggaruk-garuk kepala) ”Anu, Bu … libur! Ya, libur! Diganti minggu depan.”
Ibu : ”Benar katamu, Don? Ibu dengar, tadi Eka ke sini menghampirimu? Kenapa Eka masuk, sedang kamu tidak?”
Doni : (Menundukkan kepala) ”Hmm … Doni ingin main bola dulu, Bu.”
Ibu : (Membelai kepala Doni) ”Doni, main bola besok sore ‘kan bisa. Sekarang les dulu. Sana, siap-siap! Nanti Ibu antar!”
Doni : (Masuk sambil bersungut-sungut) ”Baik. Tapi nanti Doni dibelikan gadogado ya, Bu.”
Ibu : (Menggandeng Doni) ”Tentu, sayang.”
Tentukanlah!
1. Tokoh dan sifatnya
2. Tema
3. Latar
4. Alur
5. Amanat

Skor tiap nomor yang benar = 5.

B. Instrumen Penilaian Saat Diskusi (Bahasa Indonesia)
Nama Kelompok:…………………………………………

No

Nama
Aspek yang dinilai/ skor tiap aspek

Jml

NA

Ketepatan menjelaskan Kejujuran Kerja sama Tanggung jawab Partisi pasi
1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3
1
2
3

Keterangan :
3 = Baik
2 = Cukup
1 = Kurang

C. Instrumen Penilaian Pemeran Drama (Bahasa Indonesia)

NO NAMA Kelompok Aspek Yang Dinilai JML NA
Pengucapan dialog Ekspresi Penghayatan
1 2 3 1 2 3 1 2 3
1
2
3

Keterangan :
3 = Baik
2 = Cukup
1 = Kurang

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 18, 2011 in Uncategorized

 

Tag:

MAKALAH ANAK DENGAN GANGGUAN INTELEKTUAL (TUNAGRAHITA)

MAKALAH
ANAK DENGAN GANGGUAN INTELEKTUAL
(TUNAGRAHITA)
Disusun untuk Memenuhi Tugas Pendidikan Inklusi
Dibimbing oleh Ibu Siti Istiyati, M.pd.

Disusun Oleh :

1 SIWI ARYANTO K7108061
2 TAUFIK MALENDRA K7108239
3 VERONIKA KRISTI ROSARI K7108249
4 YOGI HESTUAJI K7108260

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2010
KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik serta hidayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Anak dengan Gangguan Intelektual (Tunagrahita)” ini.
Makalah ini disusun dari berbagai sumber yang ada sangkut pautnya dengan materi makalah ini, baik itu yang bersifat umum maupun yang bersifat khusus. Semuanya demi kesempurnaan isi makalah ini.
Akhirnya penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, baik dari segi isi maupun penulisan, untuk itu saran dan kritik yang membangun sangat kami perlukan untuk memperbaiki makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi rekan-rekan yang membaca.

Surakarta, …….……….………… 2010

Penulis

A. PENGERTIAN ANAK TUNA GRAHITA
Istilah untuk anak tunagrahita bervariasi, dalam bahasa Indonesia dikenal dengan nama : lemah pikiran, terbelakang mental, cacat grahita dan tunagrahita.
Dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama Mentally Handicaped, Mentally Retardid. Anak tunagrahita adalah bagian dari anak luar biasa. Anak luar biasa yaitu anak yang mempunyai kekurangan, keterbatasan dari anak normal. Sedemikian rupa dari segi: fisik, intelektual, sosial, emosi dan atau gabungan dari hal-hal tadi, sehingga mereka membutuhkan layanan pendidikan khusus untuk mengembangkan potensinya secara optimal.
Jadi anak tunagrahita adalah anak yang mempunyai kekurangan atau keterbatasan dari segi mental intelektualnya, dibawah rata-rata normal, sehingga mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik, komunikasi, maupun sosial, dan karena memerlukan layanan pendidikan khusus.
B. KLASIFIKASI ANAK TUNA GRAHITA
Potensi dan kemampuan setiap anak berbeda-beda demikian juga dengan anak tunagrahita, maka untuk kepentingan pendidikannya, pengelompokkan anak tunagrahita sangat diperlukan. Pengelompokkan itu berdasarkan berat ringannya ketunaan, atas dasar itu anak tungrahita dapat dikelompokkan.
1. Tunagrahita Ringan (Debil)
Anak tunagrahita ringan pada umumnya tampang atau kondisi fisiknya tidak berbeda dengan anak normal lainnya, mereka mempunyai IQ antara kisaran 50 s/d 70. Mereka juga termasuk kelompok mampu didik, mereka masih bisa dididik (diajarkan) membaca, menulis dan berhitung, anak tunagrahita ringan biasanya bisa menyelesaikan pendidikan setingkat kelas IV SD Umum.
2. Tunagrahita Sedang atau Imbesil
Anak tunagrahita sedang termasuk kelompok latih. Tampang atau kondisi fisiknya sudah dapat terlihat, tetapi ada sebagian anak tunagrahita yang mempunyai fisik normal. Kelompok ini mempunyai IQ antara 30 s/d 50. Mereka biasanya menyelesaikan pendidikan setingkat ke;las II SD Umum.
3. Tunagrahita Berat atau Idiot
Kelompok ini termasuk yang sangat rendah intelegensinya tidak mampu menerima pendidikan secara akademis. Anak tunagrahita berat termasuk kelompok mampu rawat, IQ mereka rata-rata 30 kebawah. Dalam kegiatan sehari-hari mereka membutuhkan bantuan orang lain.
Contoh perbedaan kemampuan belajar dan penyelesaian tugas anak tunagrahita berdasarkan ekuivalensi usia kalender (CA) dengan Usia Mental (MA) sebagai berikut:

Nama Umur (CA) IQ Umur kecerdasan (MA) Kemampuan mempelajari dan melakukan tugas
Si A 10 th 100 10 tahun Ia tidak kesulitan mempelajari kemampuan tugas-tugas seumurnya karena CA-nya, sama dengan MA-nya (normal)

Si B 10 th 70-55 7-5,5 tahun Ia dapat mempelajari materi pembelajaran/tugas anak usia 5,5 tahun sampai dengan 7 tahun
Si C 10 th 55-40 5,5-4 tahun Ia dapat mempelajari materi pembelajaran/tugas anak usia 4 tahun sampai dengan 5,5 tahun
Si D 10 th 40-25 4 th -2,5 tahun Ia dapat mempelajari materi pembelajaran/tugas anat usia 4 tahun sampai 2,5 tahun
Si E 10 th 25 ke 2,5 tahun ke bawah Ia dapat mempelajari materi pembelajaran/tugas anak usia 2,5 tahun ke bawah
C. KARAKTERISTIK ANAK TUNAGRAHITA
Karakteristik atau ciri-ciri anak tunagrahita dapat dilihat dari segi :
1. Fisik (Penampilan)
1) Hampir sama dengan anak normal
2) Kematangan motorik lambat
3) Koordinasi gerak kurang
4) Anak tunagrahita berat dapat kelihatan
5) Penampilan fisik tidak seimbang, misalnya kepala terlalu kecil/besar,
6) Kordinasi gerakan kurang (gerakan sering tidak terkendali)
2. Intelektual
1) Sulit mempelajari hal-hal akademik.
2) Anak tunagrahita ringan, kemampuan belajarnya paling tinggi setaraf anak normal usia 12 tahun dengan IQ antara 50 – 70.
3) Anak tunagrahita sedang kemampuan belajarnya paling tinggi setaraf anak normal usia 7, 8 tahun IQ antara 30 – 50
4) Anak tunagrahita berat kemampuan belajarnya setaraf anak normal usia 3 – 4 tahun, dengan IQ 30 ke bawah.
3. Sosial dan Emosi
1) Bergaul dengan anak yang lebih muda.
2) Suka menyendiri
3) Mudah dipengaruhi
4) Kurang dinamis
5) Kurang pertimbangan/kontrol diri
6) Kurang konsentrasi
7) Mudah dipengaruhi
8) Tidak dapat memimpin dirinya maupun orang lain.
9) Tidak dapat mengurus diri sendiri sesuai usia,
10) Tidak ada/kurang sekali perhatiannya terhadap lingkungan
Adapun Anak tunagrahita mempunyai karakteristik lainnya seperti:
 mempunyai tingkat kecerdasan di bawah rata-rata.
 mengalami kesulitan untuk mempelajari yang sifatnya abstrak
 cepat lupa
 harus di ulang-ulang dalam pelajaran
 mengalami kesulitan merawat dirinya sendiri
 mengalami kelainan downsindrom
Ketunagrahitaan mengacu pada intelektual umum yang secara signifikan berada di bawah rata-rata. Para tunagrahita mengalami hambatan dalam tingkah laku dan penyesuaian diri. Semua itu berlangsung atau terjadi pada masa perkembangannya.
Seseorang dikatakan tunagrahita apabila memiliki tiga indikator, yaitu:
1) Keterhambatan fungsi kecerdasan secara umum atau di bawah rata-rata,
2) Ketidakmampuan dalam prilaku sosial/adaptif, dan
3) Hambatan perilaku sosial/adaptif terjadi pada usia perkembangan yaitu sampai dengan usia 18 tahun.
Kebutuhan Pembelajaran Anak Tunagrahita:
a. Perbedaan tunagrahita dengan anak normal dalam proses belajar adalah terletak pada hambatan dan masalah atau karakteristik belajarnya.
b. Perbedaan karakteristik belajar anak tunagrahita dengan anak sebayanya, anak tunagrahita mengalami masalah dalam hal yaitu:
a. Tingkat kemahirannya dalam memecahkan masalah
b. Melakukan generalisasi dan mentransfer sesuatu yang baru
c. Minat dan perhatian terhadap penyelesaian tugas.

D. FAKTOR PENYEBAB ANAK TUNAGRAHITA
Faktor -faktor penyebab terjadinya tunagrahita
1. Prenatal (sebelum lahir)
Adalah proses sebelum dilahirkan (dalam kandungan)
 Adanya faktor genetika
 Ibu waktu hamil perokok berat dan minuman keras
 Ibu yang mengalami depresi berat
 Ibu mengalami kecelakaan waktu hamil (benturan)
 Ibu hamil yang kekurangan gizi
 Ibu hamil pemakai obat-obatan (naza)
 Campak
 Diabetes
 Cacar
2. Natal (waktu lahir)
Adalah proses ibu melahirkan yang
 Sudah terlalu lama, dapat mengakibatkan kekurangan oksigen pada bayi,
 Tulang panggul ibu yang terlalu kecil dapat menyebabkan otak terjepit dan menimbulkan pendarahan pada otak (anoxia),
 Sewaktu melahirkan menggunakan alat bantu (penjepit, tang)
 Melahirkan belum waktunya (prematur)
 Ibu yang mempunyai penyakit kelamin
3. Pos natal (sesudah lahir)
Adalah setelah ibu melahirkan
 Anak mengalami kecelakaan (jatuh mengenai bagian kepala)
 Anak mengalami gizi buruk, busung lapar, demam tinggi yang disertai kejang-kejang
 radang selaput otak (meningitis) dapat menyebabkan seorang anak menjadi ketunaan (tunagrahita).
E. PELAYANAN ANAK TUNAGRAHITA
Berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 bahwa setiap warga negara berhak untuk mendapatkan pengajaran. Demikian halnya dengan anak tunagrahita berhak untuk mendapatkan pendidikan. Sekolah-sekolah untuk melayani pendidikan anak luarbiasa (tunagrahita) yaitu Sekolah Luar Biasa (SLB) atau sekolah berkebutuhan khusus.
Sekolah untuk anak luar biasa terdiri dari :
1. SLB – A untuk anak Tunanetra
2. SLB – B untuk anak Tunarungu
3. SLB – C untuk anak Tunagrahita
4. SLB – D untuk anak Tunadaksa
5. SLB – E untuk anak Tunalaras
6. SLB – F untuk anak Berbakat
7. SLB – G untuk anak cacat ganda
Pelayanan pendidikan bagi anak tunagrahita/retadasi mental dapat diberikan pada:
1) Kelas Transisi.
Kelas ini diperuntukkan bagi anak yang memerlukan layanan khusus termasuk anak tunagrahita. Kelas tansisi sedapat mungkin berada disekolah regler, sehingga pada saat tertentu anak dapat bersosialisasi dengan anak lain. Kelas transisi merupakan kelas persiapan dan pengenalan pengajaran dengan acuan kurikulum SD dengan modifikasi sesuai kebutuhan anak.
2) Sekolah Khusus (Sekolah Luar Biasa bagian C dan C1/SLB-C, C1).
Layanan pendidikan untuk anak tunagrahita model ini diberikan pada Sekolah Luar Biasa. Dalam satu kelas maksimal 10 anak dengan pembimbing/pengajar guru khusus dan teman sekelas yang dianggap sama keampuannya (tunagrahita). Kegiatan belajar mengajar sepanjang hari penuh di kelas khusus. Untuk anak tunagrahita ringan dapat bersekolah di SLB-C, sedangkan anak tunagrahita sedang dapat bersekolah di SLB-C1
3) Pendidikan Terpadu.
Layanan pendidikan pada model ini diselenggarakan di sekolah reguler. Anak tunagrahita belajar bersama-sama dengan anak reguler di kelas yang sama dengan bimbingan guru reguler. Untuk matapelajaran tertentu, jika anak mempunyai kesulitan, anak tunagrahita akan mendapat bimbingan/remedial dari Guru Pembimbing Khusus (GPK) dari SLB terdekat, pada ruang khusus atau ruang sumber. Biasanya anak yang belajar di sekolah terpadu adalah anak yang tergolong tunagrahita ringan, yang termasuk kedalam kategori borderline yang biasanya mempunyai kesulitan-kesulitan dalam belajar (Learning Difficulties) atau disebut dengan lamban belajar (Slow Learner).
4) Program Sekolah di Rumah.
Progam ini diperuntukkan bagi anak tunagrahita yang tidak mampu mengkuti pendidikan di sekolah khusus karena keterbatasannya, misalnya: sakit. Proram dilaksanakan di rumah dengan cara mendatangkan guru PLB (GPK) atau terapis. Hal ini dilaksanakan atas kerjasama antara orangtua, sekolah, dan masyarakat.
5) Pendidikan Inklusif.
Sejalan dengan perkembangan layaan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus, terdapat kecenderungan baru yaitu model Pendidikan Inklusi. Model ini menekankan pada keterpaduan penuh, menghilangkan labelisasi anak dengan prinsip “Education for All”. Layanan pendidikan inklusi diselenggarakan pada sekolah reguler. Anak tunagrahita belajar bersama-sama dengan anak reguler, pada kelas dan guru/pembimbing yang sama. Pada kelas inklusi, siswa dibimbing oleh 2 (dua) oarang guru, satu guru reguler dan satu lagu guru khusus. Guna guru khusus untuk memberikan bantuan kepada siswa tunagrahita jika anak tersenut mempunyai kesulitan di dalam kelas. Semua anak diberlakukan dan mempunyai hak serta kewajiban yang sama. Tapi saat ini pelayanan pendidikan inklusi masih dalam tahap rintisan.
6) Panti (Griya) Rehabilitasi.
Panti ini diperuntukkan bagi anak tunagrahita pada tingkat berat, yang mempunyai kemampuan pada tingkat sangat rendah, dan pada umumnya memiliki kelainan ganda seperti penglihatan, pendengaran, atau motorik. Program di panti lebih terfokus pada perawatan. Pengembangan dalam pati ini terbatas dalam hal:
a. Pengenalan diri
b. Sensori motor dan persepsi
c. Motorik kasar dan ambulasi (pindak dari satu tempat ke tempat lain)
d. Kemampuan berbahasa dan komunikasi
e. Bina diri dan kemampuan sosial.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 18, 2011 in Uncategorized

 

Tag:

Sopan Santun dan Taqwa

KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT, karena berkat taufiq dan hidayah-Nya lah penulisan makalah ini dapat diselesaikan. Makalah ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas Profesi Pendidikan.
Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabatnya yang telah membimbing kita dari jalan kegelapan menuju jalan yang terang benderang.
Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan bagi kami khususnya, dan segenap pembaca umumnya. Kami menyadari bahwa paper ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari berbagai pihak sangat kami harapkan untuk menuju kesempurnaan makalah ini.
Tak lupa kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah bersusah payah membantu hingga terselesaikannya penulisan makalah ini. Semoga semua bantuan dicatat sebagai amal sholeh di hadapan Allah SWT. Amin.

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman Judul i
Kata Pengantar ii
Daftar Isi iii
Bab I. Pendahuluan 1
1. Latar Belakang Masalah 1
2. Rumusan Masalah/Permasalahan 2
Bab II. Pembahasan 3
Bab III. Penutup 6
1. Kesimpulan 6
2. Saran 6

BAB I
PENDAHULUAN
Peningkatan Keimanan dan Ketaqwaan (Imtaq) Terhadap Tuhan Yang Maha Esa merupakan amanat UUD 1945 (amandemen) Pasal 31 ayat (3) yaitu ”Tujuan Pendidikan Nasional meningkatkan keimanan dan ketaqwaan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa” dan secara tegas dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 bahwa peningkatan Imtaq merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional, yaitu ”mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, akhlak mulia, sehat, beriman, cakap, kreatif, mandiri, dan warga warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Selanjutnya dalam Visi Depdiknas yang tertuang dalam Rencana Strategis Depdiknas 2005 – 2009 disebutkan “Insan Indonesia Cerdas dan Kompetitif (Insan Kamil/Insan Paripurna)”. Untuk mencapai visi tersebut Depdiknas telah merumuskan misi ”mewujudkankan pendidikan yang mampu membangun insan Indonesia cerdas komprehensif dan kompetitif dengan melaksanakan misi pendidikan nasional”. Dalam pengertian ini yang menjadi core (inti) tujuan pendidikan nasional adalah manusia yang beriman dan bertaqwa.
Dalam implementasinya yang diamanatkan dalam PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan disebutkan bahwa ”Kurikulum untuk jenis pendidikan umum, kejuruan, dan khusus pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas: (1) kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, (2) kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, (3) kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi, (4) kelompok mata pelajaran estetika, dan (5) kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan. Khususnya untuk Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan agama, akhlak mulia, kewarganegaraan, kepribadian, ilmu pengetahuan dan teknologi, estetika, jasmani, olahraga, dan kesehatan.Termasuk juga sikap sopan santun dalam pembelajaran.
Di sisi lain, terdapat tiga hal yang ikut melatarbelakangi pentingnya program peningkatan Imtaq. Pertama, dalam era globalisasi terdapat pengaruh negatif media elektronik dan media cetak terhadap kehidupan masyarakat. Kedua, kehidupan masyarakat kita sebagian besar belum/tidak kondusif bagi upaya peningkatan Imtaq, Ketiga, sebagian peserta didik (terutama di kota-kota besar) berperilaku menyimpang (perkelaian pelajar, tawuran, penyalahgunaan narkoba, penyimpangan seksual, dan kenakalan remaja lainnya).
Upaya peningkatan Imtaq bukan hanya menjadi tanggung jawab guru Pendidikan Agama saja, tetapi menjadi tanggung jawab bersama seluruh komponen pendidikan di sekolah,

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Taqwa
Merujuk kepada bahasa Arab, taqwa itu berasal dari perkataan waqa. Atau lebih tepat lagi ia adalah dari rangkaian kalimah waqa-yaqi-wiqoyah. Waqa ini terjemahannya adalah memelihara. Jadi bila dikatakan ittaqullah itu berearti hendaklah kamu ambil Allah itu sebagai pemelihara. Atau dapatkanlah pemeliharaan dari Allah. Dalam makna yang sama, hendaklah kamu jadikan Allah sebagai benteng. Jadikan Allah sebagai pelindung atau pendinding kamu. Bila Allah sudah jadi pemelihara, atau Allah sudah jadi benteng, maka benda luar yang jahat tidak akan dapat masuk atau menembusi kamu. Kamu seolah-olah sudah dipakaikan baju besi oleh Allah sehingga tidak lut kejahatan menembusi kamu.
At-taqwa maknanya al-hadzr yaitu waspada. Kalau dikatakan anda bertaqwa kepada sesuatu, maka artinya waspada dan berhati-hati terhadapnya. Pada prinsipnya ketaqwaan seorang adalah apabila ia menjadikan suatu pelindung antara dirinya dengan apa yang ia takuti. Maka ketaqwaan seorang hamba kepada Rabbnya adalah apabila ia menjadikan antara dirinya dan apa yang ia takuti dari Rabb (berupa kemarahan, siksa, murka) suatu penjagaan/pelindung darinya. Yaitu dengan menjalankan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Maka tampak jelas, bahwa hakikat taqwa adalah sebagaimana yang disampaikan oleh Thalq bin Hubaib, “Taqwa adalah engkau melakukan ketaatan kepada Allah berdasarkan nur (petunjuk) dari Allah karena mengharapkan pahala dari-Nya.Dan engkau meninggalkan maksiat kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah karena takut akan siksa-Nya.”
Sedangkan takwa secara lebih lengkapnya adalah, menjalankan segala kewajiban, menjauhi semua larangan dan syubhat (perkara yang samar), selanjutnya melaksanakan perkara-perkara sunnah (mandub), serta menjauhi perkara-perkara yang makruh(dibenci).
Kata taqwa juga sering digunakan untuk istilah menjaga diri atau menjauhi hal-hal yang diharamkan, sebagaimana dikatakan oleh Abu Hurairah Radhiallaahu anhu ketika ditanya tentang takwa, beliau mengata-kan, “Apakah kamu pernah melewati jalanan yang berduri?” Si penanya menjawab, ”Ya”. Beliau balik bertanya, “Lalu apa yang kamu lakukan?” Orang itu menjawab, “Jika aku melihat duri, maka aku menyingkir darinya, atau aku melompatinya atau aku tahan langkah”. Maka berkata Abu Hurairah, ”Seperti itulah takwa.”
B. Hakekat Taqwa
Kebanyakan orang tidak paham apa sebenarnya taqwa. Walaupun istilah taqwa selalu disebut tetapi ilmu tentang taqwa tidak pernah diajar. Jalan untuk mendapatkan taqwa tidak pernah diberitahu. Syarat-syarat dan rukun-rukun taqwa
juga tidak pernah dinyatakan. Orang sudah lalai dengan perkataan taqwa. Sebagian orang menganggap perkataan taqwa itu sudah tidak ada arti apa-apa lagi
karena kebanyakan orang tidak paham. Oleh itu macam mana hendak jadi orang yang bertaqwa.
Taqwa bukan sebatas melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan. Bukan sebatas menunai ketaatan dan menjauhkan kemaksiatan. Bukan sebatas membuat apa yang disuruh dan meninggalkan apa yang dilarang. Bukan juga sebatas meninggalkan apa yang haram dan menunaikan apa yang fardhu. Bukan sebatas menjauhkan yang syirik dengan beramal dan taat kepada Allah. Bukan sebatas menjauhkan diri dari segala apa yang akan menjauhkan diri kita daripada Allah. Bukan sebatas membatasi diri kepada yang halal saja dan bukan sebatas beramal untuk menjuruskan ketaatan kepada Allah semata-mata.
Inilah kupasan dan kepahaman tentang taqwa yang dibawa oleh para ustaz, para muallim, orang yang hafaz Quran dan Hadis bahkan juga para mufti dan kadhi.
Taqwa itu sangat dipermudahkan sehingga orang tidak merasakan bahwa taqwa itu
penting dan perlu diperjuangkan demi untuk mendapat keselamatan di dunia dan
Akhirat. Maksud taqwa sebenarnya lebih dalam dan lebih luas dari itu. Taqwa
adalah antara perkara yang terpokok dalam agama.
Orang membuat apa yang disuruh dan meninggalkan apa yang dilarang atau orang menunaikan ketaatan dan menjauhkan kemaksiatan, tidak semestinya berasaskan taqwa. Mereka taat mungkin karena ada sebab-sebab lain. Mungkin ingin upah, ingin dipuji, ingin pengaruh atau untuk mengambil hati orang. Mereka
meninggalkan apa yang dilarang pun mungkin ada sebab-sebab lain. Mungkin karena ingin dihormati, ingin menjaga nama dan kedudukan, takut dihukum, takut orang mengatai dan menghina atau takut diasingkan orang.
C. Asas Taqwa
Asas taqwa yang lahir bermula dari aqidah yang betul diikuti dengan sembahyang, puasa, zakat dan naik haji. Itu adalah asas taqwa. Kalau asas taqwa ini tidak ada artinya kita tidak ada benih untuk ditanam. Kalau tidak ada benih, masakan akan ada pohonnya. Amalan-amalan yang lain adalah sebagai tambahan.
Asas taqwa yang batin ialah rasa kehambaan yang sungguh mendalam. Di antaranya rasa serba-serbi dhaif, lemah, hina, lalai dan lupa di sisi Allah SWT. Rasa
diri benar-benar dimiliki oleh Allah. Rasa diri tidak punya apa-apa. Diri yang merasa lemah itu sangat merasakan dia beresiko kepada berbagai kerosakan dan cacat. Tiada daya, tiada upaya dan tidak mampu berbuat apa-apa. Rasa kehambaan yang mendalam ini menjadikan hati penuh pasrah, merintih, mengharap dan memohon setiap sesuatu itu hanya dari Allah.
D. Ciri-Ciri Taqwa
Di antara ciri-ciri taqwa adalah:
1. Ingat Dua Perkara
Pertama: Kebaikan, jasa dan budi orang kepada kita perlu diingat selalu dan sekiranya berpeluang, maka bagus jika disebut-sebut dan dibalas walaupun balasan itu tidak setimpal dengan jasa dan budi orang itu kepada kita. Itu terhadap kebaikan dan jasa manusia.
Lebih-lebih lagilah kita perlu ingat dan mensyukuri segala nikmat dan limpah kurnia Allah SWT kepada kita yang tidak terhingga banyaknya. Firman Allah SWT: maksudnya: “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (sebagai tanda bersyukur).” (Adh Dhuha: 11)
Ini supaya kita terasa terhutang budi dan berterima kasih kepada orang yang berbuat baik dan berjasa kepada kita. Tentulah terhadap Allah, lebih-lebih lagi patut kita rasakan sedemikian rupa. Memang patut kita taat dan bersyukur kepada Allah, dengan membuat amal kebajikan biarpun segala amalan itu tidak mungkin setimpal dengan karunia Allah.
Kedua: Kesalahan kita kepada orang lain hendaklah sentiasa kita ingat dan kita minta maaf kepadanya. Ingat selalu tentang kesalahan diri agar kesalahan itu tidak diulangi. Rasa bersalah itu penting karena rasa itulah yang mendorong kita meminta maaf. Itu terhadap kesalahan kita terhadap sesama manusia.
Lebih-lebih lagi kita perlu mengingat dosa-dosa dan kedurhakaan kita kepada Allah. Kita iringi ingatan kepada dosa-dosa itu dengan bertaubat. Kekalkan rasa berdosa itu supaya kita terhindar dari terbuat dosa-dosa yang lain dan hati kita sentiasa takut dan berharap agar Allah ampunkan dosa kita.
2. Lupa Dua Perkara
Pertama: Lupakan segala budi, jasa dan kebaikan kita kepada orang. Jangan diungkit-ungkit dan dikenang-kenang. Kembalikan segala kebaikan yang kita buat itu kepada Allah. Rasakan seolah-olah kita tidak pernah berbuat baik kepada orang.
Lebih-lebih lagi, kita harus lupakan segala amal ibadah yang telah kita buat kepada Allah. Jangan diungkit-ungkit atau dikenang-kenang. Rasakan seolah-olah kita tidak beramal. Dengan itu moga-moga hati kita tidak dilintasi oleh rasa ujub, sum’ah atau riyak atau rasa diri baik dan mulia
Kedua: Lupakan kejahatan orang terhadap diri kita. Anggaplah seolah-olah tidak ada siapa yang bersalah dengan kita supaya tidak tercetus rasa marah atau dendam terhadap orang.
Lebih-lebih lagi hendaklah kita lupakan segala kesusahan, ujian, musibah atau mala-petaka yang Allah timpakan kepada kita seperti sakit, kematian, kerugian, kemalangan dan kegagalan. Atau banjir, kemarau, ribut taufan, tsunami, wabak penyakit, kemerosotan ekonomi dan sebagainya. Supaya tidak tercetus perasaan tidak sabar dan tidak redha dengan ketentuan Allah.
3. Menyukai Apa Yang Allah Suka
Yakni kesukaan kita hendaklah sejalan dengan kesukaan Allah. Kita melakukan apa saja perbuatan dan amalan menurut apa yang disukai Allah. Ini mudah kalau apa saja yang Allah suka, kita pun suka. Bukan soal sesuatu amalan itu kecil atau besar, fardhu, wajib atau sunat tetapi asalkan Allah suka, kita pun suka dan akan membuatnya. Itu cara kita hendak menghiburkan Allah. Itu manifestasi dari cinta kita yang mendalam kepada Allah. Seseorang itu akan menyukai apa saja yang disukai oleh orang yang dicintainya. Soal amalan fardhu, wajib atau sunat sudah tidak jadi pertimbangan. Semua amalan yang Allah suka akan kita buat. Ia bukan juga soal mendapat pahala atau fadhilat. Ia lebih kepada hasrat untuk menyatakan dan membuktikan cinta dan kehambaan kita kepada Tuhan.
4. Membenci Apa Yang Allah Benci
Yakni kebencian kita hendaklah sejalan dengan kebencian Allah. Kita tinggalkan apa saja perbuatan dan amalan menurut apa yang dibenci oleh Allah. Ini mudah kalau apa yang Allah benci, kita pun benci. Nafsu pasti mendorong untuk berbuat apa yang Allah benci karena nafsu itu suka kepada apa yang Allah benci dan benci kepada apa yang Allah suka.
Tetapi fitrah tetap kuat dan teguh. Fitrah yang suci murni itu, wataknya berlawanan dengan watak nafsu. Ia suka kepada apa yang Allah suka dan benci kepada apa yang Allah SWT benci. Nafsu tidak dapat mengalahkannya karena rasa bertuhan dan rasa kehambaannya yang mendalam.
E. Guru Takwa dan Manajemen Takwa
Konsep manajemen Islam menjelaskan bahwa setiap manusia (bukan hanya organisasi) hendaknya memperhatikan apa yang telah diperbuat pada masa yang telah lalu untuk merencanakan hari esok. Dalam Al Qur’an Allah berfirman :
” Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
(Q.S. Al Hasyr : 18)
Hal menarik dari ayat tersebut adalah perintah kepada orang-orang yang beriman dimulai dengan bertakwa kepada Allah untuk selanjutnya mempersiapkan bekal untuk masa depannya baik di dunia maupun di akhirat kemudian ditutup dengan perintah takwa. Pertanyaannya, mengapa perintah bertakwa harus diletakkan di awal dan di akhir ? Alasan yang bisa dikemukakan adalah bahwa merencanakan masa depan harus dimulai dengan ketakwaan sehingga niat, komitmen, orientasi sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Segala yang dilakukan adalah kebaikan dan membawa manfaat baik untuk diri sendiri maupun orang lain, dan juga penuh kewaspadaan dan kehati-hatian sehingga segalanya terencana dengan baik dan jauh dari kecerobohan. Kemudian ditutup dengan ketakwaan kembali berarti bahwa dalam pelaksanaan perencanaan berbasis ketakwaan yang telah disusun, betul-betul dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, sesuai visi, misi dan target dengan pengendalian, monitoring dan pengawasan yang profesional. Inilah manajemen ketakwaan, dimulai dengan takwa dan diakhiri dengan takwa (husnul khatimah).
Bagaimana caranya agar manajemen takwa ini dapat terwujud ? Imam Al Ghazali dalam kitab Tazkiyatun Nafs nya membagi tangga menuju takwa terdiri atas lima tingkatan dan dilakukan modifikasi dan kontekstualisasi yaitu :
1. Mu’ahadah : perjanjian yaitu menguatkan kembali niat dan komitmen bahwa segala yang dikerjakan adalah semata-mata karena Allah sehingga tujuan demi kebaikan serta pelaksanaan juga akan sebaik-baiknya karena merupakan ibadah dan persembahan kepada Allah.
2. Muhasabah : penghitungan yaitu evaluasi diri di awal pekerjaan berbasis data yang akurat dan objektif untuk mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan sehingga menyusun target betul-betul realistis dan menantang dan dapat dicapai dengan penuh antusias. Evaluasi juga terus dilakukan saat pelaksanaan pekerjaan untuk menghadapi dan mengantisipasi segala kendala yang ada untuk selanjutnya disiasati dengan cerdas sehingga target tetap dapat tercapai.
3. Mujahadah : kesungguhan yaitu mengerjakan rencana dengan penuh kesungguhan melalui pengerahan secara optimal segala potensi yang dimiliki baik sumber daya manusia, material, mesin, metode dan dana.
4. Muraqabah : pengawasan yaitu dalam melaksanakan pekerjaan diperlukan pengendalian untuk meluruskan yang tidak lurus, mengoreksi yang salah, dan membenarkan yang salah. Hal ini terbagi atas dua hal yaitu :
1) Kontrol yang berasal dari diri sendiri yang bersumber dari tauhid dan keimanan kepada Allah SWT. Seseorang yang yakin bahwa Allah pasti mengawasi hamba-Nya, maka ia akan bertindak hati-hati. Allah SWT berfirman : ”Tidakkah kamu perhatikan bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. …. ” (Q.S. Al Mujadalah : 7)
Rasulullah SAW bersabda : ”Bertakwalah Anda kepada Allah, di mana pun anda berada”
2) Kontrol yang berasal dari luar diri sendiri. Sistem ini dapat berupa mekanisme kontrol dari pemimpin yang berkaitan dengan penyelesaian tugas yang telah didelegasikan, kesesuaian antara penyelesaian tugas dan perencanaan tugas, dan lain-lain.
5. Mu’aqabah : pahala dan siksa yaitu reward and punishment (penghargaan dan hukuman) yang berguna untuk memotivasi. Dalam Islam ada istilah basyir (berita gembira) dan nadzir (berita ancaman) yang dianalogikan dengan penghargaan dan hukuman. Kedua hal ini tidak boleh dipisahkan. Jika yang dilakukan hanya memberi reward saja, maka seseorang akan memiliki semangat untuk melakukan sesuatu karena tujuan jangka pendek. Jika yang dilakukan hanya hukuman saja, maka seseorang cenderung menjadi takut dan tidak berkembang. Lebih jauh lagi, Allah menyiapkan pahala dan dosa, surga dan neraka atas segala aktivitas dan amal manusia. Sehingga yang terbaik untuk ditumbuhkan dalam penghargaan yaitu harapan penghargaan dari Allah dan ketakutan hukuman dari Allah.
Untuk dapat mewujudkan manajemen takwa ini maka dibutuhkan guru takwa yang mengelola pendidikan takwa yang memiliki :
1) Kesadaran :
a. sadar akan diri sebagai hamba Allah yang diciptakan oleh-Nya melalui kejadian yang luar biasa dan diberi nikmat yang sangat banyak.
b. Sadar diri sebagai khalifah Allah di muka bumi yang diberi kesempurnaan dibandingkan makhluk yang lain.
c. Sadar bahwa profesi yang ditekuninya adalah panggilan jiwa untuk menjalankan fungsi khalifah.
2) Keterbukaan :
a. Mau mengevaluasi diri secara objektif untuk mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan.
b. Menyusun target secara realistis dan menantang dan dapat dicapai dengan penuh antusias.
c. mengikuti perkembangan terbaru dan terbuka terhadap perubahan.
3) Kesungguhan :
a. Menjalani hidup untuk meraih prestasi dengan Motivasi dan Kompetensi.
b. Bekerja sungguh-sungguh dengan KIDS : Keyakinan, Ikhtiar, Do’a, Sabar dan 5 As : Keras, Cerdas, Tangkas, Mawas, Tuntas, Ikhlas.
4) Kebersamaan :
a. Memiliki keterampilan hidup (life skills) untuk bergaul : Communicating, Getting Along with Others, Learning to Learn
b. Memiliki keterampilan hidup (life skills) untuk mandiri : problem solving, decision making
c. Memiliki keterampilan hidup (life skills) untuk sinergi : managing and working with groups.
5) Kesetiaan :
a. Istiqamah dalam memegang prinsip Illahi dalam menjalani hidup yang terkadang banyak cobaan dan godaan.
b. Ikhlas dalam bekerja dan menghadapi segala cobaan dengan sabar, tidak putus asa dan senantiasa berdo’a kepada Allah.
Jika ciri-ciri yang dikemukakan dapat dimiliki oleh guru umumnya dan manajer pendidikan khususnya, maka Insya Allah akan dapat meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia dan mengantarkan Indonesia menjadi negara yang maju dan bermartabat.
F. Pengertian Sopan Santun
Secara etimologis sopan santun berasal dari dua buah kata, yaitu kata sopan dan santun. Keduanya telah bergabung menjadi sebuah kata majemuk. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sopan pantun dapat diartikan sebagai berikut: Sopan yaitu hormat dengan tak lazim (akan, kepada) tertib menurut adab yang baik. Atau bisa dikatakan sebagai cerminan kognitif (pengetahuan). Sedangkan Santun yaitu halus dan baik (budi bahasanya, tingkah lakunya); sopan, sabar; tenang. Atau bisa dikatakan cerminan psikomotorik (penerapan pengetahuan sopan ke dalam suatu tindakan). Jika digabungkan kedua kalimat tersebut, sopan santun adalah pengetahuan yang berkaitan dengan penghormatan melalui sikap, perbuatan atau tingkah laku, budi pekerti yang baik, sesuai dengan tata krama; peradaban; kesusilaan.
Pada dasarnya kita harus sopan dimana saja, kapan saja dan dalam kondisi apapun. Apalagi kita hidup dalam budaya Timur yang sarat akan nilai-nilai kesopanan, sehingga seharusnya kita berpatokan dalam budaya timur dan berpedoman pada sopan santun ala timur. Sopan santun itu bukan warisan semata dari nenek moyang, lebih dari itu, dia sudah menjadi kepribadian kita. Memang kadar kesopanan yang berlaku dalam setiap masyarakat berbeda–beda, tergantung dari kondisi sosial setempat. Dan permasalahan ini sangat komplek karena berkaitan dengan faktor internal dan eksternal yang menyebabnya lunturnya nilai sopan santun.
Dalam kondisi sekarang yang secara realita kebudayaan terus berubah karena masuknya budaya barat akan sulit mempertahankan kesopanan disemua keadaan ataupun disemua tempat. Perubahan tersebut mengalami dekadensi karena berbedanya kebudayaan barat dengan kebudayaan kita (faktor eksternal). Misalnya saja sopan santun dalam tutur kata. Di barat, anak-anak yang sudah dewasa biasanya memanggil orang tuanya dengan sebutan nama, tetapi di Indonesia sendiri panggilan tersebut sangat tidak sopan karena orang tua umurnya lebih tua dari kita dan kita harus memanggilnya bapak ataupun ibu. Kemudian sopan santun dalam berpakaian, diluar negeri orang yang berpakaian bikini dipantai bagi mereka wajar. Tapi bagi kita berpakaian seperti itu sangat tidak sopan karena dianggap tidak sesuai dengan norma kesopanan. Selanjutnya Sopan santun dalam bergaul, dibarat jika kita bertemu teman yang berlawanan jenis kita boleh mencium bibirnya, tetapi di Indonesia hal tersebut sangat bertentangan dengan kesusilaan.
Oleh karena kebudayaan yang masuk tidak tersaring sepenuhnya menyebabkan lunturnya sopan santun. Sedangkan faktor internalnya ada pada diri sendiri, keluarga, lingkungan tempat nongkrong, lingkungan sekolah, ataupun media massa. Pengetahuan tentang sopan santun yang didapat disekolah mungkin sudah cukup tapi dilingkungan keluarga ataupun tempat tongkrongan dan media massa kurang mendukung tindakan sopan disemua tempat ataupun sebaliknya, sehingga membuat tindakan sopan yang dilakukan oleh anak-anak atau pun remaja hanya dalam kondisi tertentu. Misalnya penyebutan nama bagi yang umurnya lebih tua masih dianggap tidak sopan sehingga mereka memanggil mas, bang, aa, ataupun yang lain. Sedangkan dalam berpakaian atapun yang lain kurang diperhatikan. Saya sendiri tak memungkiri keadaan tersebut , kondisi lingkungan yang kurang peduli terhadap kesopanan, sehingga akhirnya pada saat-saat tertentu saja saya sopan. Seperti disekolah, ditempat kuliah ataupun di tempat-tempat formal yang lainnya. Keadaan ini seharusnya jangan sampai terjadi karena lama kelamaan akan menimbulkan hilangnya kebudayaan kita dan mungkin akhirnya kita tidak mempunyai kebudayaan sendiri.
Norma sopan-santun adalah peraturan hidup yang timbul dari hasil pergaulan sekelompok manusia di dalam masyarakat dan dianggap sebagai tuntunan pergaulan sehari-hari masyarakat itu. Norma kesopanan bersifat relatif, artinya apa yang dianggap sebagai norma kesopanan berbeda-beda di berbagai tempat, lingkungan, atau waktu.
Contoh-contoh norma kesopanan ialah:
1) Menghormati orang yang lebih tua.
2) Menerima sesuatu selalu dengan tangan kanan.
3) Tidak berkata-kata kotor, kasar, dan sombong.
4) Tidak meludah di sembarang tempat.
Sanksi bagi pelanggar norma kesopanan adalah tidak tegas, tetapi dapat diberikan oleh masyarakat berupa cemoohan, celaan, hinaan, atau dikucilkan dan diasingkan dari pergaulan serta di permalukan.
G. Menanamkan Sopan Santun Pada Anak
Seiring perkembangan jaman dan meluasnya pengaruh globalisasi, norma kesopan santunan merupakan hal yang semakin sulit diajarkan. Untuk itu, ada baiknya sejak dini, si kecil mulai diperkenalkan dengan perilaku sopan santun. Adapun, beberapa cara yang dapat dilakukan oleh ayah dan bunda dalam menularkan perilaku sopan santun kepada buah hati yaitu sebagai berikut :
1. Jadikan diri sendiri sebagai contoh
Karena pada masa ini, anak-anak sedang mengalami masa imitasi, dimana umumnya mereka meniru setiap perilaku orangtua.
2. Sampaikan apa yang diinginkan dari buah hati
Sampaikan secara langsung bila ayah atau bunda berkeinginan agar si kecil bersikap yang baik dan tidak rewel saat berkunjung ke rumah teman atau orang tua
3. Beri pujian
Bila anak telah bersikap sopan, tak ada salahnya memberi pujian.
4. Jangan paksa anak untuk menjadi sempurna
Bila Anda berharap terlalu banyak dari anak, bisa-bisa yang terjadi adalah “perang” dengan anak. Lakukan secara bertahap, sesuai perkembangan anak.
5. Jangan mempermalukan anak
Salah adalah hal biasa. Begitu pula jika anak melakukan kekeliruan yang menurut Anda tidak sopan. Beritahu anak kesalahannya dan katakan apa yang Anda harapkan. Jangan langsung memarahi atau mempermalukannya di depan orang lain.
H. Cara Mengajar Anak-anak harus Sopan (Be a role model for polite behavior)
Orang tua anak-anak sangat merugi bila mereka tidak mengajari anaknya bagaimana menjadi sopan. Guru, teman, tetangga dan keluarga sangat senang ketika anak-anak bersikap sopan untuk mereka dan benar-benar terganggu saat anak-anak tidak sopan. Pengajaran sopan santun memberikan anak-anak hidup penuh dengan penghargaan yang lebih besar untuk diri sendiri dan orang lain ketika mereka tumbuh dengan tata krama yang tepat dan penghargaan terhadap diri mereka sendiri dan orang-orang di sekitar mereka. Ini semua dimulai dengan dasar-dasar mengajar anak-anak untuk bersikap sopan dari usia muda.
Berikut adalah cara sederhana untuk mendapatkan anak-anak di jalan yang benar untuk bersikap sopan.
1) Be a role model for polite behavior (Jadilah teladan bagi perilaku sopan)
Apakah Anda pernah melihat jeritan anak-anak orang tua di kemudian berbalik dan mengharapkan mereka untuk bersikap sopan untuk orang dewasa? Ini tidak bekerja seperti itu. Pepatah lama bahwa anak-anak akan melakukan seperti yang Anda lakukan tidak seperti yang Anda katakan itu benar. Jika Anda ingin anak-anak untuk bersikap sopan Anda harus model bagi mereka perilaku sopan. Bicara dengan nada baik terhadap anak-anak dan membuat permintaan bukan ancaman. Hal ini tidak selalu mudah untuk bersabar dengan anak-anak, tetapi sebagai orang dewasa adalah tanggung jawab Anda untuk model perilaku yang sesuai.
2) Catch kids being good (Buatlah anak-anak menjadi baik).
Ketika Anda melihat anak-anak bersikap sopan kepada seseorang dengan baik seseorang berterima kasih untuk sesuatu atau meminta sesuatu dengan cara yang sopan, mengakuinya. Dengan cara itu, perilaku baik mereka mendapat perhatian dan mengakui mereka untuk jenis perilaku yang Anda harapkan. Ini memperkuat Anda menghormati dan kesadaran mereka sebagai individu dan mendorong mereka untuk berperilaku dengan cara serupa di masa mendatang.
3) Set appropriate boundaries and expectations for polite behavior (Menetapkan batas yang sesuai dan harapan untuk perilaku sopan).
Pahami bahwa anak-anak perlu diberitahu yang perilaku sopan yang diharapkan dari mereka. Di beberapa rumah, panggilan telepon untuk mengucapkan terima kasih atas hadiah ulang tahun sudah cukup. Di lain email atau catatan pribadi diharapkan. Jika seorang anak telah menyakiti perasaan someones, meskipun itu tidak apa maksudnya lakukan, masih mendorong dia untuk minta maaf atas perannya dalam segala kesalahpahaman. Semua orang membuat kesalahan dan tidak ada satu orang yang baik-baik saja atau semua salah. Tampilkan anak-anak apa yang diharapkan dalam hal perilaku sopan secara teratur juga. Anak-anak perlu batasan-batasan yang konsisten agar mereka akan tumbuh menjadi orang dewasa yang bijaksana dan sopan. Hanya karena anak-anak belajar untuk bersikap sopan itu tidak berarti mereka harus terus berjalan, namun. Ajarkan anak-anak untuk pergi dari orang-orang dan situasi yang tidak menunjukkan perilaku sopan kepada mereka dalam kembali. Dengan memungkinkan mereka untuk menghentikan perilaku tidak sopan yang ditujukan kepada mereka, mereka belajar pelajaran penting tentang perawatan diri dan harga diri.
4) (Connect with kids )Berhubungan dengan anak-anak.
Beberapa orang tua mengharapkan standar yang ketat tersebut untuk anak-anak mereka untuk bersikap sopan tetapi tidak pernah membiarkan mereka penjaga bawah dan bersenang-senang sedikit dengan mereka. Anak-anak dapat belajar bersikap sopan, tetapi mereka juga menghadapi risiko begitu dijaga bahwa mereka mulai dewasa ketidakpercayaan dan sopan dalam cara yang dangkal. Ketika Anda terhubung dengan anak-anak sementara Anda mengajarkan mereka untuk bersikap sopan Anda membuat ikatan yang kuat dan abadi dengan mereka. Mereka secara alami akan ingin mengadopsi perilaku sopan.
5) Describe the basics of polite behavior (Menjelaskan dasar-dasar perilaku sopan)
Menjaga perilaku pemodelan sampai menjadi tertanam pada anak. Mulai saat anak-anak balita . Tidak pernah terlalu dini untuk mulai mengajar anak-anak untuk bersikap sopan. Dasar-dasar perilaku sopan termasuk mengatakan silakan dan terima kasih ketika meminta sesuatu atau menerima sesuatu. Namun perilaku sopan juga termasuk jenis nada suara dan sikap yang menyenangkan.. Biarkan anak tahu bahwa orang-orang menghargai itu ketika seseorang baik kepada mereka. Anak-anak tumbuh menjadi lebih percaya diri dan memiliki harga diri yang lebih baik ketika mereka tahu dari usia dini apa yang diharapkan dari mereka. Anak-anak yang mulai belajar bagaimana menjadi sopan saat muda tumbuh menjadi orang dewasa sopan.
I. Mengasah Kecerdasan Sopan Santun
Kelak, anak yang dibiasakan bersikap sopan santun akan lebih mudah bersosialisasi dan mau mematuhi aturan umum di masyarakat. Orang tua memang dituntut untuk menularkan etiket pada anak. Namun, mengajarkan etiket tak bisa dilakukan dalam satu hari. Perlu proses yang cukup panjang dan harus dilakukan secara konsisten serta berkesinambungan agar hasilnya maksimal. Terkadang, meskipun orang tua sudah “bersusah payah” mendidik si kecil agar bersikap sopan, lingkungan di luar rumah justru memberikan model yang berlawanan. Ada juga yang menyikapi perilakunya secara permisif misalnya meng- izinkan si prasekolah merebut mainan anak lain tanpa meng- upayakan cara yang santun dan beranggapan, “Biarin aja begitu, namanya juga anak-anak. Nanti juga berubah kok sikapnya kalau sudah besar.” Nah, justru pemakluman seperti ini secara langsung maupun tidak mengakibatkan anak menerapkan perilaku tak sopan bahkan menganggap apa yang dilakukannya itu sah-sah saja. Alhasil, sikap tidak beretiket akan terus terbawa sampai besar.Kalau sudah begitu, akan sulit sekali untuk mengubah perilakunya.Sebenarnya ada beberapa hal penting yang mesti diperhatikan orang tua agar anak cerdas bertatakrama, yaitu:
1. Orang Tua Sebagai Model
Sekali lagi, pembentukan perilaku sopan santun sangat dipengaruhi lingkungan. Anak pasti menyontoh perilaku orang tua sehari-hari. Tak salahlah kalau ada yang menyebutkan bahwa ayah/ibu merupakan model yang tepat bagi anak. Di sisi lain, anak dianggap sebagai sosok peniru yang ulung. Lantaran itu, orang tua sebaiknya selalu menunjukkan sikap sopan santun. Dengan begitu, anak pun secara otomatis akan mengadopsi tata- krama tersebut. Asal tahu saja, pola pengajaran bertatakrama tentunya tidak semata berupa nasihat, akan tetapi juga perlu contoh.
Kemudian, orang tua juga mesti konsisten dan konsekuen menerapkan adab yang baik. Misalnya, ayah/ibu minta si prasekolah setiap makan di meja makan. Akan tetapi dia sendiri makan di ruang tengah sambil nonton teve atau sambil berdiri. Ya, tentunya takkan berefek maksimal. Mungkin saja si anak malah protes, “Kok ayah makannya sambil nonton teve, sih?
Yang perlu diwaspadai, anak dapat berperilaku berlawanan karena menyontoh orang lain baik yang sebaya ataupun lebih dewasa. Kalau sudah begitu, jelaskan pada si kecil dengan bahasa yang mudah dipahami kenapa sikap seperti itu dilarang dan tak baik dilakukan. Yang pasti jangan sambil marah-marah karena toh anak mungkin pada dasarnya tak tahu sikap yang dilakukannya itu baik atau buruk.
2. Mulai dari Hal yang Kecil
“Pengajaran” tatakrama sebaiknya dimulai dari kehidupan sehari-hari dan dari hal yang kecil. Anak dikenalkan mengenai aturan-aturan atau adab sopan santun. Kelak, kebiasan-kebiasan baik yang kadang luput dari perhatian ini akan terus dilakukan hingga dia besar.
Nah, berikut contoh-contoh sikap dasar yang perlu “ditularkan”, yaitu:
1) Mengucapkan terima kasih jika diberi sesuatu atau ketika si prasekolah dibawakan sesuatu baik oleh orang tua maupun orang lain. Sekaligus mengajarkan menghargai jerih payah orang lain.
2) Mengucapkan “maaf” jika bersalah. Mengajarkan sportivitas dan berani mengakui kesalahan.
3) Mengucapkan tolong ketika meminta diambilkan sesuatu, misalnya. Dengan begitu, anak belajar untuk menghargai pertolongan atau bantuan orang lain.
4) Menyapa, memberi salam atau mengucapkan permisi jika bertemu orang lain.
5) Mengajarkan pula perilaku ramah dan agar mudah bersosialisasi.
6) Mengajarkan adab menerima telepon. Sekaligus mengajarkan bagaimana berbudi bahasa yang baik. Dalam skala yang lebih luas, bagaimana bersikap di tempat umum, misalnya tidak berteriak-teriak, tidak memotong pembicaraan orang.
7) Mengajarkan privasi orang lain, misalnya mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke kamar tidur orang tua. Prinsip dasar sopan santun adalah menghargai hak dan perasaan orang lain. Ini akan menjadi dasar bagi anak untuk menjadi manusia yang beretika.
8) Etiket makan yang baik, tidak sambil jalan-jalan atau melakukan aktivitas lain. Sikap ketika makan di meja makan, tidak bersendawa atau makan sambil ngobrol, misalnya.
3. Jelas Tujuannya
Selain memberikan contoh yang baik, tentunya orang tua juga perlu menjelaskan pada si prasekolah kenapa harus menerapkan sopan santun. Misalnya, kalau anak berteriak-teriak atau lari kesana-kemari saat ayah/ibu menerima tamu tentu akan mengganggu konsentrasi dan pembicaraan. Di sisi lain, ayah/ibu pun jadi malu melihat tingkah-polah si anak. Sang tamu mungkin tak berkeberatan dengan sikap seperti itu, malah barangkali menganggap lucu. Akan tetapi, jika perilaku yang sama terus dilakukan efek jangka panjangnya cenderung negatif bagi si anak sendiri.
Barangkali si kecil juga tak tahu maksud harus mengucapkan terima kasih, maaf, salam dan sebagainya. Menjadi tugas orang tualah untuk menjelaskan alasan semua aturan atau tatakrama tersebut.
Nah, mengajak atau mengajarkan anak bersopan santun sekali lagi tidak perlu dengan cara yang keras. Namun upayakan dengan kelembutan sehingga anak betul-betul memahami maksud dan tujuan beretiket. Umumnya, anak yang baik dan bisa menghargai orang lain adalah anak yang tahu sopan santun. Sebagai sebuah proses, bagaimana pun orang tua perlu sabar hingga anak mengerti dan menerapkannya.
Kelak, anak yang dibiasakan dari kecil untuk bersikap sopan santun akan lebih mudah bersosialisasi. Dia akan mudah memahami aturan-aturan yang ada di masyarakat dan mau mematuhi aturan umum tersebut. Anak pun relatif mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, supel, selalu menghargai orang lain, penuh percaya diri, dan memiliki kehidupan sosial yang baik. Pen-dek kata, dia tumbuh menjadi sosok yang beradab.
4. Harus Sejak Dini
Mengenalkan dan mengajarkan tatakrama sebaiknya dilakukan sejak dini, setidaknya usia batita. Tentunya dikenalkan dari hal yang paling sederhana, seperti memberi salam, minta izin sebelum meminjam barang kakaknya, mengetuk pintu sebelum masuk kamar orang tua, dan sebagainya. Jangan menunggu mengenalkan adab atau etiket ketika anak sudah besar. Pun, jangan menyerahkan sepenuhnya perihal pengajaran sopan santun ini pada pihak sekolah. Toh, pembelajaran etiket atau tatakrama sebenarnya paling efektif dilakukan ayah dan ibu.(tabloid-nakita)
J. Sopan Santun Seorang Guru (‘alim)
Apabila kamu seorang guru (‘alim) maka penuhilah adab-adabmu sebagai guru (sehingga kamu di hormati oleh manusia di dunia dan di muliakan allah di akherat). Adab-adab/sopan santun bagi guru ada sebagai berikut :
1. Bertanggung jawab atas beban yang di pikulnya. Dia sadar bahwa ia sebagai guru tidak hanya mengajar tetapi juga mendidik, memberikan contoh dan tauladan yang baik.
2. Bersabar dalam segala hal.
3. Bertindak atau bersikap ‘arif, bijaksana, tidak angkuh terhadap sesama dan mempunyai sikap merendah diri.
4. Tidak boleh takabbur terhadap siapapun, kecuali terhadap orang yang zholim yang harus di sselesaikan dengan jalan di takkaburi.
5. Bersikap tawadhu’ dalam setiap majlis dan perkumpulan, dan menampakkan rasa cinta kepada sesama dan merendah diri.
6. Meninggalkan atau menjahui banyak bercanda, senda gurau, omongan yang carut marut dan sembrono.
7. Menaruh dan menampakkan rasa cinta kasih, bijak terhadap anak didiknya (muridnya), dan bijaksana dalam membimbing baik terhadap murid yang sok pintar atau murid yang bodoh.
8. Tidak memarahi murid yang bodoh/bebal, keras kepala sehingga menampakkan keengganan mendidik.
9. Memperhaikan pendapat alasan orang lain, menerima pendapat seseorang bila benar dan mau mengakui kekhilafannya.
10. Mencegah murid-muridnya untuk menuntut ilmu yang membahayakan bagi dirinya.
11. Mencegah atau melarang murid-muridnya yang mempergunsakan ilmunya untuk hal-hal yang tidak di ridhoi Allah SWT.
12. Memberikan pengarahan kepada murid-muridnya untuk mempelajari ilmu yang wajib ‘ain dulu sebelum mempelajari ilmu yang wajib kifayah; sebab mempelajari ilmu yangt wajib ‘ain itu lebih penting untuk membina akhlak batin menujunkepada taqwa.
13. Harus memperbaiki dan menata dirinya sendiri terlebih dahulu, sebelum memperbaiki dan menata anak didiknya. Apabila ia memerintahkan sesuatu untuk di kerjakan maka dia harus terlebih dulu mengerjakannya, demikian juga kalau ia melarang sesuatu, maka ia harus terlebih dulu menjahuinya.

http://www.ehow.com/how_2282832_teach-kids-be-polite.html

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 18, 2011 in Uncategorized

 

Tag:

PERSYARATAN,KEWAJIBAN,DAN HAK GURU

BAB I

PENDAHULUAN

Menjadi guru yang professional adalah hal yang dicita-citakan oleh semua guru. Dan untuk mencapai hal tersebut,seorang guru tidak hanya sekedar mengetahui bahwa tugas utamanya adalah mendidik,membimbing,melatih,menilai,dan mengevaluasi peserta didik , namun hal terpenting yang harus diketahui oleh seorang guru sebelum dia melaksanakan tugas utamanya, yaitu dia harus mengerti dan memahami syarat-syarat untuk menjadi guru yang baik,kewajiban seorang guru,dan hak yang dimiliki oleh seorang guru. Karena seorang guru yang tidak mengetahui ketiga hal diatas dimungkinkan dalam menjalankan profesinya tidak akan mencapai suatu profesionalitas.Maka dari itu seorang guru wajib memahami syarat,hak,dan kewajibannya agar dapat menjadi guru yang professional.

Setelah seorang guru memahami tentang syarat,kewajiban,dan haknya diharapkan dapat menjalankan profesinya sebagai guru secara professional, mempunyai kepribadian layaknya seorang guru, mampu menjalankan tugas utamanya secara baik, memahami kewajiban yang harus dilakukan oleh seorang guru, dan mengetahui hak seorang guru dalam tugas keprofesionalannya.Dan tujuan akhir dari semua itu adalah dapat menjadi guru yang professional.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

PERSYARATAN,KEWAJIBAN,DAN HAK GURU

 

 

A . SYARAT UNTUK MENJADI GURU YANG BAIK

Untuk menjadi guru yang baik dan dapat melaksanakan pembelajaran dengan sebaik-baiknya,seorang guru dituntut untuk memiliki kualitas yang dituntut dari profil seorang guru,seperti :

1. Memiliki kepribadian

2. Memiliki pengetahuan dan pemahaman profesi kependidikan

3 .Memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang bidang spesialisasi

4. Memiliki kemampuan dan ketrampilan profesi

Di samping itu guru juga dituntut untuk memiliki beberapa kemampuan seperti :

  1. Menguasai materi pembelajaran dan kemampuan untuk memilih,menata,dan mengemas materi pelajaran ke dalam cakupan dan kedalaman yang sesuai dengan sasaran kurikuler yang mudah dicerna oleh siswa.
  2. Memiliki penguasaan tentang teori dan ketrampilan mengajar.
  3. Memiliki pengetahuan tentang masa pertumbuhan dan perkembangan siswa serta memiliki pemahaman tentang bagaimana siswa belajar.
  1. Penguasaan materi pelajaran sebagai dasar kemampuan guru untuk melakukan proses pembelajaran.

Guru yang profesional sebelum mulai mengajar mereka telah benar-benar mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, baik dari segi adminstrasi seperti membuat persiapan mengajar, membuat program pembelajaran, media pembelajaran, maupun dari segi edukatif, seperti menguasai materi pelajaran, metode dan teknik pembelajaran.

Guru juga harus memiliki kemampuan untuk memilih, menata, dan mengemas materi pelajaran ke dalam cakupan dan kedalaman yang sesuai dengan sasaran kurikuler dan kemampuan daya tangkap sehingga mudah dicerna oleh siswa, dengan demikian proses pembelajaran menjadi menarik karena bersifat terarah, apalagi dilengkapi dengan media pembelajaran yang menarik, disampaikan secara lugas, tidak berbelit-belit, dan banyak melibatkan siswa.

  1. Memiliki penguasaan tentang teori dan ketrampilan mengajar

Ada beberapa ketrampilan yang harus dikuasai guru antara lain :

  1. Ketrampilan menjelaskan

Penjelasan materi pelajaran yang mudah dipahami siswa merupakan bagian penting dalam proses pembelajaran, oleh sebab itu guru diharapkan mampu mengorganisasikan materi pelajaran dengan perencanaan yang sistematis,sehingga mudah dipahami oleh siswa.

Ketrampilan ini bertujuan untuk :

# membantu siswa dalam menghadapi konsep,hokum,prinsip,atau prosedur.

# membantu siswa menjawab pertanyaan

# melibatkan siswa untuk berpikir

# mendapatkan balikan dari siswa

# membantu siswa menghayati proses nalar

  1. Ketrampilan memberi penguatan

Ketrampilan memberi penguatan baru akan tampak pada saat guru memberikan respon terhadap munculnya tingkah laku siswa yang bernilai positif,sehingga dapat meningkatkan perhatian dan motivasi belajar siswa kearah yang lebih positif. Penguatan dapat diberikan dalam bentuk verbal ( kata-kata / pujian ), dan non verbal , seperti : gerakan mendekati,mimic dan gerakan badan, sentuhan, dan kegiatan yang menyenangkan siswa   ( audience ).

  1. Ketrampilan bertanya

Hampir semua kegiatan proses pembelajaran berlangsung dengan tanya  jawab. Hal ini dimaksudkan agar pembelajaran yang dilaksanakan guru dapat membantu siswanya. Kualitas pertanyaan guru menggambarkan kualitas jawaban siswa, oleh sebab itu guru yang terampil dalam bertanya , akan mampu meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran.

  1. Ketrampilan mengadakan variasi pembelajaran

Ketrampilan jenis ini harus dimiliki guru dengan tujuan untuk mengadakan variasi guna melakukan perubahan dalam proses kegiatan pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi siswa,serta mengurangi rasa jenuh dan bosan selama mengikuti proses pembelajaran.Ketrampilan mengadakan variasi meliputi : variasi dalam gaya mengajar, penggunaan media dan bahan pelajaran,serta variasi dalam pola interaksi dan kegiatan.

  1. Ketrampilan membuka dan menutup pelajaran

Kegiatan membuka pelajaran dilakukan guru untuk menciptakan suasana yang dapat menimbulkan kesiapan mental siswa agar termotivasi terhadap pelajaran yang akan diberikan guru.Kegiatan ini berbentuk appersepsi,pretes,atau tanya jawab terhadap materi yang lalu atau materi yang akan diberikan.Sedangkan kegiatan menutup pelajaran terdiri dari : membuat rangkuman / ringkasan, melaksanakan evaluasi akhir pelajaran, dan memberikan tindak lanjut.

  1. Ketrampilan mengelola kelas

Ketrampilan ini harus dimiliki guru dalam rangka menciptakan dan mempertahankan situasi kelas yang kondusif dan menyenangkan , sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif. Di samping itu ketrampilan ini bermanfaat bagi guru terutama untuk :

# Mendorong siswa agar dapat bertanggung jawab baik secara individu / klasikal terhadap perilakunya.

# Menyadari kebutuhan siswa.

# Memberikan respon yang efektif terhadap perilaku siswa.

  1. 3.      Memiliki pengetahuan tentang masa pertumbuhan dan perkembangan siswa serta memiliki pemahaman tentang bagaimana siswa belajar.

Untuk dapat memahami anak didik dengan baik, seorang guru harus dapat memahami hakikat pertumbuhan dan perkembangan mereka serta memahami karakteristik anak didiknya. Hal ini disebabkan karena siswa sebagai manusia mengalami perubahan-perubahan fisik, interaksi sosial, kemampuan mengingat, kemampuan emosional, kemampuan intelektual, kemampuan kognitif, afektif, dan kemampuan psikomotor. Dengan dikuasainya pemahaman anak didik oleh guru, akan memudahkan guru tersebut dalam melaksanakan proses pembelajaran sebab guru akan dapat memberikan materi yang sesuai dengan masa pertumbuhan dan perkembangan siswa.

 

B . HAK DAN KEWAJIBAN GURU

Guru sebagai tenaga professional, ahli dalam bidang (akademis) yang ditandai dengan memiliki sertifikat yang dikeluarkan oleh lembaga pendidikan yang berwenang dan terakreditasi oleh pemerintah. Seseorang yang telah memiliki sertifikat mengajar, dinyatakan sebagai ahli dalam bidang akademis tertentu, memiliki hak untu mengajar dalam lembaga atau satua pendidikan. Secara akademis, seorang guru professional ia memiliki keahlian atau kecakapan akademis atau dalam bidang ilmu tertentu; cakap mempersiapkan penyajian materi (pembuatan silabus; program tahunan, program semster) yang akan menjadi acuan penyajian; melaksanakan penyajian materi ,melaksanakan evaluasi ,serta mampu memperlakukan siswa secara adil dan secara manusiawi.

 

Undang-undang Guru No.14 Tahun 2005 menyebutkan tentang hak dan kewajiban guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan adalah :

Hak Seorang Guru diantaranya :

1)      Memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial.

2)      Mendapatkan promosi dan penghargaan sesuai dengan tugas dan prestasi kerja.

3)      Memperoleh perlindungan dalam melaksanakan tugas dan hak atas kekayaan intelektual.

4)      Memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kompetensi

5)      Memperoleh dan memanfaatkan sarana dan prasarana pembelajaran untuk menunjang kelancaran tugas keprofesionalan.

6)      Memiliki kebebasan dalam memberikan penilaian dan ikut menentukan kelulusan,memberikan penghargaan ataupun sanksi kepada peserta didik sesuai dengan kaidah pendidikan ,kode etik guru,dan peraturan perundang-undangan.

7)      Memperoleh rasa aman dan jaminan keselamatan dalam melaksanakan tugas.

8)      Memiliki kebebasan untuk berserikat dan organisasi profesi

9)      Memiliki kesempatan untuk berperan dalam penentuan kebijakan pendidikan.

10)  Memiliki kesempatan untuk barperan mengembangkan dan meningkatkan kualifikasi akademik dan kompetensi.

11)  Memperoleh pelatihan dan pengembangan profesi dalam bidangnya ( Bab IV Pasal 14, halaman 6 ).

Kewajiban  Seorang Guru diantaranya :

1)   Merencanakan pembelajaran , melaksanakan

2)    proses pembelajaran yang bermutu , serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran.

3)   Meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan , teknologi dan seni.

4)   Bertindak obyektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin,agama,suku,ras, dan kondisi fisik tertentu, atau latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran.

5)   Menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan,hukum,kode etik guru,serta nilai-nilai agama dan etika.

6)   Memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa.

BAB III

PENUTUP

 

Dari pembahasan tentang persyaratan, hak , dan kewajiban seorang guru yang telah dijelaskan di atas dapat ditarik kesimpulan :

  1. Untuk menjadi guru yang baik, syarat-syarat yang harus dipenuhi :
  • Memiliki Kepribadian
  • Mengetahui dan memahami profesi kependidikan
  • Memahami bidang spesialisasi seorang guru
  • Mempunyai kemampuan dan ketrampilan profesi
  1. 2.      Kewajiban seorang guru :
  • Merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran
  • Meningkatkan kualifikasi akademik dan kompetensi guru
  • Bertindak objektif dan tidak diskriminatif
  • Menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan,hokum,serta kode etik guru
  • Memelihara persatuan dan kesatuan bangsa
  1. 3.      Hak seorang guru :
  • Mendapatkan penghasilan diatas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial.
  • Mendapatkan penghargaan sesuai prestasi kerja
  • Memanfaatkan sarana dan prasarana pembelajaran
  • Memperoleh rasa aman

 

BAB IV

DAFTAR PUSTAKA

Djam’an Satori. (2007). Profesi Keguruan.Jakarta : Universitas Terbuka.

Massofa.wordpress.com / 2008 /10 /12/ syarat-untuk-menjadi-guru-yang-baik /

Pdfdatabase.com / hak-kewajiban-guru / Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 18, 2011 in Uncategorized