RSS

Sopan Santun dan Taqwa

18 Sep

KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT, karena berkat taufiq dan hidayah-Nya lah penulisan makalah ini dapat diselesaikan. Makalah ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas Profesi Pendidikan.
Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabatnya yang telah membimbing kita dari jalan kegelapan menuju jalan yang terang benderang.
Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan bagi kami khususnya, dan segenap pembaca umumnya. Kami menyadari bahwa paper ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari berbagai pihak sangat kami harapkan untuk menuju kesempurnaan makalah ini.
Tak lupa kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah bersusah payah membantu hingga terselesaikannya penulisan makalah ini. Semoga semua bantuan dicatat sebagai amal sholeh di hadapan Allah SWT. Amin.

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman Judul i
Kata Pengantar ii
Daftar Isi iii
Bab I. Pendahuluan 1
1. Latar Belakang Masalah 1
2. Rumusan Masalah/Permasalahan 2
Bab II. Pembahasan 3
Bab III. Penutup 6
1. Kesimpulan 6
2. Saran 6

BAB I
PENDAHULUAN
Peningkatan Keimanan dan Ketaqwaan (Imtaq) Terhadap Tuhan Yang Maha Esa merupakan amanat UUD 1945 (amandemen) Pasal 31 ayat (3) yaitu ”Tujuan Pendidikan Nasional meningkatkan keimanan dan ketaqwaan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa” dan secara tegas dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 bahwa peningkatan Imtaq merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional, yaitu ”mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, akhlak mulia, sehat, beriman, cakap, kreatif, mandiri, dan warga warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Selanjutnya dalam Visi Depdiknas yang tertuang dalam Rencana Strategis Depdiknas 2005 – 2009 disebutkan “Insan Indonesia Cerdas dan Kompetitif (Insan Kamil/Insan Paripurna)”. Untuk mencapai visi tersebut Depdiknas telah merumuskan misi ”mewujudkankan pendidikan yang mampu membangun insan Indonesia cerdas komprehensif dan kompetitif dengan melaksanakan misi pendidikan nasional”. Dalam pengertian ini yang menjadi core (inti) tujuan pendidikan nasional adalah manusia yang beriman dan bertaqwa.
Dalam implementasinya yang diamanatkan dalam PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan disebutkan bahwa ”Kurikulum untuk jenis pendidikan umum, kejuruan, dan khusus pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas: (1) kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, (2) kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, (3) kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi, (4) kelompok mata pelajaran estetika, dan (5) kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan. Khususnya untuk Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan agama, akhlak mulia, kewarganegaraan, kepribadian, ilmu pengetahuan dan teknologi, estetika, jasmani, olahraga, dan kesehatan.Termasuk juga sikap sopan santun dalam pembelajaran.
Di sisi lain, terdapat tiga hal yang ikut melatarbelakangi pentingnya program peningkatan Imtaq. Pertama, dalam era globalisasi terdapat pengaruh negatif media elektronik dan media cetak terhadap kehidupan masyarakat. Kedua, kehidupan masyarakat kita sebagian besar belum/tidak kondusif bagi upaya peningkatan Imtaq, Ketiga, sebagian peserta didik (terutama di kota-kota besar) berperilaku menyimpang (perkelaian pelajar, tawuran, penyalahgunaan narkoba, penyimpangan seksual, dan kenakalan remaja lainnya).
Upaya peningkatan Imtaq bukan hanya menjadi tanggung jawab guru Pendidikan Agama saja, tetapi menjadi tanggung jawab bersama seluruh komponen pendidikan di sekolah,

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Taqwa
Merujuk kepada bahasa Arab, taqwa itu berasal dari perkataan waqa. Atau lebih tepat lagi ia adalah dari rangkaian kalimah waqa-yaqi-wiqoyah. Waqa ini terjemahannya adalah memelihara. Jadi bila dikatakan ittaqullah itu berearti hendaklah kamu ambil Allah itu sebagai pemelihara. Atau dapatkanlah pemeliharaan dari Allah. Dalam makna yang sama, hendaklah kamu jadikan Allah sebagai benteng. Jadikan Allah sebagai pelindung atau pendinding kamu. Bila Allah sudah jadi pemelihara, atau Allah sudah jadi benteng, maka benda luar yang jahat tidak akan dapat masuk atau menembusi kamu. Kamu seolah-olah sudah dipakaikan baju besi oleh Allah sehingga tidak lut kejahatan menembusi kamu.
At-taqwa maknanya al-hadzr yaitu waspada. Kalau dikatakan anda bertaqwa kepada sesuatu, maka artinya waspada dan berhati-hati terhadapnya. Pada prinsipnya ketaqwaan seorang adalah apabila ia menjadikan suatu pelindung antara dirinya dengan apa yang ia takuti. Maka ketaqwaan seorang hamba kepada Rabbnya adalah apabila ia menjadikan antara dirinya dan apa yang ia takuti dari Rabb (berupa kemarahan, siksa, murka) suatu penjagaan/pelindung darinya. Yaitu dengan menjalankan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Maka tampak jelas, bahwa hakikat taqwa adalah sebagaimana yang disampaikan oleh Thalq bin Hubaib, “Taqwa adalah engkau melakukan ketaatan kepada Allah berdasarkan nur (petunjuk) dari Allah karena mengharapkan pahala dari-Nya.Dan engkau meninggalkan maksiat kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah karena takut akan siksa-Nya.”
Sedangkan takwa secara lebih lengkapnya adalah, menjalankan segala kewajiban, menjauhi semua larangan dan syubhat (perkara yang samar), selanjutnya melaksanakan perkara-perkara sunnah (mandub), serta menjauhi perkara-perkara yang makruh(dibenci).
Kata taqwa juga sering digunakan untuk istilah menjaga diri atau menjauhi hal-hal yang diharamkan, sebagaimana dikatakan oleh Abu Hurairah Radhiallaahu anhu ketika ditanya tentang takwa, beliau mengata-kan, “Apakah kamu pernah melewati jalanan yang berduri?” Si penanya menjawab, ”Ya”. Beliau balik bertanya, “Lalu apa yang kamu lakukan?” Orang itu menjawab, “Jika aku melihat duri, maka aku menyingkir darinya, atau aku melompatinya atau aku tahan langkah”. Maka berkata Abu Hurairah, ”Seperti itulah takwa.”
B. Hakekat Taqwa
Kebanyakan orang tidak paham apa sebenarnya taqwa. Walaupun istilah taqwa selalu disebut tetapi ilmu tentang taqwa tidak pernah diajar. Jalan untuk mendapatkan taqwa tidak pernah diberitahu. Syarat-syarat dan rukun-rukun taqwa
juga tidak pernah dinyatakan. Orang sudah lalai dengan perkataan taqwa. Sebagian orang menganggap perkataan taqwa itu sudah tidak ada arti apa-apa lagi
karena kebanyakan orang tidak paham. Oleh itu macam mana hendak jadi orang yang bertaqwa.
Taqwa bukan sebatas melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan. Bukan sebatas menunai ketaatan dan menjauhkan kemaksiatan. Bukan sebatas membuat apa yang disuruh dan meninggalkan apa yang dilarang. Bukan juga sebatas meninggalkan apa yang haram dan menunaikan apa yang fardhu. Bukan sebatas menjauhkan yang syirik dengan beramal dan taat kepada Allah. Bukan sebatas menjauhkan diri dari segala apa yang akan menjauhkan diri kita daripada Allah. Bukan sebatas membatasi diri kepada yang halal saja dan bukan sebatas beramal untuk menjuruskan ketaatan kepada Allah semata-mata.
Inilah kupasan dan kepahaman tentang taqwa yang dibawa oleh para ustaz, para muallim, orang yang hafaz Quran dan Hadis bahkan juga para mufti dan kadhi.
Taqwa itu sangat dipermudahkan sehingga orang tidak merasakan bahwa taqwa itu
penting dan perlu diperjuangkan demi untuk mendapat keselamatan di dunia dan
Akhirat. Maksud taqwa sebenarnya lebih dalam dan lebih luas dari itu. Taqwa
adalah antara perkara yang terpokok dalam agama.
Orang membuat apa yang disuruh dan meninggalkan apa yang dilarang atau orang menunaikan ketaatan dan menjauhkan kemaksiatan, tidak semestinya berasaskan taqwa. Mereka taat mungkin karena ada sebab-sebab lain. Mungkin ingin upah, ingin dipuji, ingin pengaruh atau untuk mengambil hati orang. Mereka
meninggalkan apa yang dilarang pun mungkin ada sebab-sebab lain. Mungkin karena ingin dihormati, ingin menjaga nama dan kedudukan, takut dihukum, takut orang mengatai dan menghina atau takut diasingkan orang.
C. Asas Taqwa
Asas taqwa yang lahir bermula dari aqidah yang betul diikuti dengan sembahyang, puasa, zakat dan naik haji. Itu adalah asas taqwa. Kalau asas taqwa ini tidak ada artinya kita tidak ada benih untuk ditanam. Kalau tidak ada benih, masakan akan ada pohonnya. Amalan-amalan yang lain adalah sebagai tambahan.
Asas taqwa yang batin ialah rasa kehambaan yang sungguh mendalam. Di antaranya rasa serba-serbi dhaif, lemah, hina, lalai dan lupa di sisi Allah SWT. Rasa
diri benar-benar dimiliki oleh Allah. Rasa diri tidak punya apa-apa. Diri yang merasa lemah itu sangat merasakan dia beresiko kepada berbagai kerosakan dan cacat. Tiada daya, tiada upaya dan tidak mampu berbuat apa-apa. Rasa kehambaan yang mendalam ini menjadikan hati penuh pasrah, merintih, mengharap dan memohon setiap sesuatu itu hanya dari Allah.
D. Ciri-Ciri Taqwa
Di antara ciri-ciri taqwa adalah:
1. Ingat Dua Perkara
Pertama: Kebaikan, jasa dan budi orang kepada kita perlu diingat selalu dan sekiranya berpeluang, maka bagus jika disebut-sebut dan dibalas walaupun balasan itu tidak setimpal dengan jasa dan budi orang itu kepada kita. Itu terhadap kebaikan dan jasa manusia.
Lebih-lebih lagilah kita perlu ingat dan mensyukuri segala nikmat dan limpah kurnia Allah SWT kepada kita yang tidak terhingga banyaknya. Firman Allah SWT: maksudnya: “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (sebagai tanda bersyukur).” (Adh Dhuha: 11)
Ini supaya kita terasa terhutang budi dan berterima kasih kepada orang yang berbuat baik dan berjasa kepada kita. Tentulah terhadap Allah, lebih-lebih lagi patut kita rasakan sedemikian rupa. Memang patut kita taat dan bersyukur kepada Allah, dengan membuat amal kebajikan biarpun segala amalan itu tidak mungkin setimpal dengan karunia Allah.
Kedua: Kesalahan kita kepada orang lain hendaklah sentiasa kita ingat dan kita minta maaf kepadanya. Ingat selalu tentang kesalahan diri agar kesalahan itu tidak diulangi. Rasa bersalah itu penting karena rasa itulah yang mendorong kita meminta maaf. Itu terhadap kesalahan kita terhadap sesama manusia.
Lebih-lebih lagi kita perlu mengingat dosa-dosa dan kedurhakaan kita kepada Allah. Kita iringi ingatan kepada dosa-dosa itu dengan bertaubat. Kekalkan rasa berdosa itu supaya kita terhindar dari terbuat dosa-dosa yang lain dan hati kita sentiasa takut dan berharap agar Allah ampunkan dosa kita.
2. Lupa Dua Perkara
Pertama: Lupakan segala budi, jasa dan kebaikan kita kepada orang. Jangan diungkit-ungkit dan dikenang-kenang. Kembalikan segala kebaikan yang kita buat itu kepada Allah. Rasakan seolah-olah kita tidak pernah berbuat baik kepada orang.
Lebih-lebih lagi, kita harus lupakan segala amal ibadah yang telah kita buat kepada Allah. Jangan diungkit-ungkit atau dikenang-kenang. Rasakan seolah-olah kita tidak beramal. Dengan itu moga-moga hati kita tidak dilintasi oleh rasa ujub, sum’ah atau riyak atau rasa diri baik dan mulia
Kedua: Lupakan kejahatan orang terhadap diri kita. Anggaplah seolah-olah tidak ada siapa yang bersalah dengan kita supaya tidak tercetus rasa marah atau dendam terhadap orang.
Lebih-lebih lagi hendaklah kita lupakan segala kesusahan, ujian, musibah atau mala-petaka yang Allah timpakan kepada kita seperti sakit, kematian, kerugian, kemalangan dan kegagalan. Atau banjir, kemarau, ribut taufan, tsunami, wabak penyakit, kemerosotan ekonomi dan sebagainya. Supaya tidak tercetus perasaan tidak sabar dan tidak redha dengan ketentuan Allah.
3. Menyukai Apa Yang Allah Suka
Yakni kesukaan kita hendaklah sejalan dengan kesukaan Allah. Kita melakukan apa saja perbuatan dan amalan menurut apa yang disukai Allah. Ini mudah kalau apa saja yang Allah suka, kita pun suka. Bukan soal sesuatu amalan itu kecil atau besar, fardhu, wajib atau sunat tetapi asalkan Allah suka, kita pun suka dan akan membuatnya. Itu cara kita hendak menghiburkan Allah. Itu manifestasi dari cinta kita yang mendalam kepada Allah. Seseorang itu akan menyukai apa saja yang disukai oleh orang yang dicintainya. Soal amalan fardhu, wajib atau sunat sudah tidak jadi pertimbangan. Semua amalan yang Allah suka akan kita buat. Ia bukan juga soal mendapat pahala atau fadhilat. Ia lebih kepada hasrat untuk menyatakan dan membuktikan cinta dan kehambaan kita kepada Tuhan.
4. Membenci Apa Yang Allah Benci
Yakni kebencian kita hendaklah sejalan dengan kebencian Allah. Kita tinggalkan apa saja perbuatan dan amalan menurut apa yang dibenci oleh Allah. Ini mudah kalau apa yang Allah benci, kita pun benci. Nafsu pasti mendorong untuk berbuat apa yang Allah benci karena nafsu itu suka kepada apa yang Allah benci dan benci kepada apa yang Allah suka.
Tetapi fitrah tetap kuat dan teguh. Fitrah yang suci murni itu, wataknya berlawanan dengan watak nafsu. Ia suka kepada apa yang Allah suka dan benci kepada apa yang Allah SWT benci. Nafsu tidak dapat mengalahkannya karena rasa bertuhan dan rasa kehambaannya yang mendalam.
E. Guru Takwa dan Manajemen Takwa
Konsep manajemen Islam menjelaskan bahwa setiap manusia (bukan hanya organisasi) hendaknya memperhatikan apa yang telah diperbuat pada masa yang telah lalu untuk merencanakan hari esok. Dalam Al Qur’an Allah berfirman :
” Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
(Q.S. Al Hasyr : 18)
Hal menarik dari ayat tersebut adalah perintah kepada orang-orang yang beriman dimulai dengan bertakwa kepada Allah untuk selanjutnya mempersiapkan bekal untuk masa depannya baik di dunia maupun di akhirat kemudian ditutup dengan perintah takwa. Pertanyaannya, mengapa perintah bertakwa harus diletakkan di awal dan di akhir ? Alasan yang bisa dikemukakan adalah bahwa merencanakan masa depan harus dimulai dengan ketakwaan sehingga niat, komitmen, orientasi sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Segala yang dilakukan adalah kebaikan dan membawa manfaat baik untuk diri sendiri maupun orang lain, dan juga penuh kewaspadaan dan kehati-hatian sehingga segalanya terencana dengan baik dan jauh dari kecerobohan. Kemudian ditutup dengan ketakwaan kembali berarti bahwa dalam pelaksanaan perencanaan berbasis ketakwaan yang telah disusun, betul-betul dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, sesuai visi, misi dan target dengan pengendalian, monitoring dan pengawasan yang profesional. Inilah manajemen ketakwaan, dimulai dengan takwa dan diakhiri dengan takwa (husnul khatimah).
Bagaimana caranya agar manajemen takwa ini dapat terwujud ? Imam Al Ghazali dalam kitab Tazkiyatun Nafs nya membagi tangga menuju takwa terdiri atas lima tingkatan dan dilakukan modifikasi dan kontekstualisasi yaitu :
1. Mu’ahadah : perjanjian yaitu menguatkan kembali niat dan komitmen bahwa segala yang dikerjakan adalah semata-mata karena Allah sehingga tujuan demi kebaikan serta pelaksanaan juga akan sebaik-baiknya karena merupakan ibadah dan persembahan kepada Allah.
2. Muhasabah : penghitungan yaitu evaluasi diri di awal pekerjaan berbasis data yang akurat dan objektif untuk mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan sehingga menyusun target betul-betul realistis dan menantang dan dapat dicapai dengan penuh antusias. Evaluasi juga terus dilakukan saat pelaksanaan pekerjaan untuk menghadapi dan mengantisipasi segala kendala yang ada untuk selanjutnya disiasati dengan cerdas sehingga target tetap dapat tercapai.
3. Mujahadah : kesungguhan yaitu mengerjakan rencana dengan penuh kesungguhan melalui pengerahan secara optimal segala potensi yang dimiliki baik sumber daya manusia, material, mesin, metode dan dana.
4. Muraqabah : pengawasan yaitu dalam melaksanakan pekerjaan diperlukan pengendalian untuk meluruskan yang tidak lurus, mengoreksi yang salah, dan membenarkan yang salah. Hal ini terbagi atas dua hal yaitu :
1) Kontrol yang berasal dari diri sendiri yang bersumber dari tauhid dan keimanan kepada Allah SWT. Seseorang yang yakin bahwa Allah pasti mengawasi hamba-Nya, maka ia akan bertindak hati-hati. Allah SWT berfirman : ”Tidakkah kamu perhatikan bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. …. ” (Q.S. Al Mujadalah : 7)
Rasulullah SAW bersabda : ”Bertakwalah Anda kepada Allah, di mana pun anda berada”
2) Kontrol yang berasal dari luar diri sendiri. Sistem ini dapat berupa mekanisme kontrol dari pemimpin yang berkaitan dengan penyelesaian tugas yang telah didelegasikan, kesesuaian antara penyelesaian tugas dan perencanaan tugas, dan lain-lain.
5. Mu’aqabah : pahala dan siksa yaitu reward and punishment (penghargaan dan hukuman) yang berguna untuk memotivasi. Dalam Islam ada istilah basyir (berita gembira) dan nadzir (berita ancaman) yang dianalogikan dengan penghargaan dan hukuman. Kedua hal ini tidak boleh dipisahkan. Jika yang dilakukan hanya memberi reward saja, maka seseorang akan memiliki semangat untuk melakukan sesuatu karena tujuan jangka pendek. Jika yang dilakukan hanya hukuman saja, maka seseorang cenderung menjadi takut dan tidak berkembang. Lebih jauh lagi, Allah menyiapkan pahala dan dosa, surga dan neraka atas segala aktivitas dan amal manusia. Sehingga yang terbaik untuk ditumbuhkan dalam penghargaan yaitu harapan penghargaan dari Allah dan ketakutan hukuman dari Allah.
Untuk dapat mewujudkan manajemen takwa ini maka dibutuhkan guru takwa yang mengelola pendidikan takwa yang memiliki :
1) Kesadaran :
a. sadar akan diri sebagai hamba Allah yang diciptakan oleh-Nya melalui kejadian yang luar biasa dan diberi nikmat yang sangat banyak.
b. Sadar diri sebagai khalifah Allah di muka bumi yang diberi kesempurnaan dibandingkan makhluk yang lain.
c. Sadar bahwa profesi yang ditekuninya adalah panggilan jiwa untuk menjalankan fungsi khalifah.
2) Keterbukaan :
a. Mau mengevaluasi diri secara objektif untuk mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan.
b. Menyusun target secara realistis dan menantang dan dapat dicapai dengan penuh antusias.
c. mengikuti perkembangan terbaru dan terbuka terhadap perubahan.
3) Kesungguhan :
a. Menjalani hidup untuk meraih prestasi dengan Motivasi dan Kompetensi.
b. Bekerja sungguh-sungguh dengan KIDS : Keyakinan, Ikhtiar, Do’a, Sabar dan 5 As : Keras, Cerdas, Tangkas, Mawas, Tuntas, Ikhlas.
4) Kebersamaan :
a. Memiliki keterampilan hidup (life skills) untuk bergaul : Communicating, Getting Along with Others, Learning to Learn
b. Memiliki keterampilan hidup (life skills) untuk mandiri : problem solving, decision making
c. Memiliki keterampilan hidup (life skills) untuk sinergi : managing and working with groups.
5) Kesetiaan :
a. Istiqamah dalam memegang prinsip Illahi dalam menjalani hidup yang terkadang banyak cobaan dan godaan.
b. Ikhlas dalam bekerja dan menghadapi segala cobaan dengan sabar, tidak putus asa dan senantiasa berdo’a kepada Allah.
Jika ciri-ciri yang dikemukakan dapat dimiliki oleh guru umumnya dan manajer pendidikan khususnya, maka Insya Allah akan dapat meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia dan mengantarkan Indonesia menjadi negara yang maju dan bermartabat.
F. Pengertian Sopan Santun
Secara etimologis sopan santun berasal dari dua buah kata, yaitu kata sopan dan santun. Keduanya telah bergabung menjadi sebuah kata majemuk. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sopan pantun dapat diartikan sebagai berikut: Sopan yaitu hormat dengan tak lazim (akan, kepada) tertib menurut adab yang baik. Atau bisa dikatakan sebagai cerminan kognitif (pengetahuan). Sedangkan Santun yaitu halus dan baik (budi bahasanya, tingkah lakunya); sopan, sabar; tenang. Atau bisa dikatakan cerminan psikomotorik (penerapan pengetahuan sopan ke dalam suatu tindakan). Jika digabungkan kedua kalimat tersebut, sopan santun adalah pengetahuan yang berkaitan dengan penghormatan melalui sikap, perbuatan atau tingkah laku, budi pekerti yang baik, sesuai dengan tata krama; peradaban; kesusilaan.
Pada dasarnya kita harus sopan dimana saja, kapan saja dan dalam kondisi apapun. Apalagi kita hidup dalam budaya Timur yang sarat akan nilai-nilai kesopanan, sehingga seharusnya kita berpatokan dalam budaya timur dan berpedoman pada sopan santun ala timur. Sopan santun itu bukan warisan semata dari nenek moyang, lebih dari itu, dia sudah menjadi kepribadian kita. Memang kadar kesopanan yang berlaku dalam setiap masyarakat berbeda–beda, tergantung dari kondisi sosial setempat. Dan permasalahan ini sangat komplek karena berkaitan dengan faktor internal dan eksternal yang menyebabnya lunturnya nilai sopan santun.
Dalam kondisi sekarang yang secara realita kebudayaan terus berubah karena masuknya budaya barat akan sulit mempertahankan kesopanan disemua keadaan ataupun disemua tempat. Perubahan tersebut mengalami dekadensi karena berbedanya kebudayaan barat dengan kebudayaan kita (faktor eksternal). Misalnya saja sopan santun dalam tutur kata. Di barat, anak-anak yang sudah dewasa biasanya memanggil orang tuanya dengan sebutan nama, tetapi di Indonesia sendiri panggilan tersebut sangat tidak sopan karena orang tua umurnya lebih tua dari kita dan kita harus memanggilnya bapak ataupun ibu. Kemudian sopan santun dalam berpakaian, diluar negeri orang yang berpakaian bikini dipantai bagi mereka wajar. Tapi bagi kita berpakaian seperti itu sangat tidak sopan karena dianggap tidak sesuai dengan norma kesopanan. Selanjutnya Sopan santun dalam bergaul, dibarat jika kita bertemu teman yang berlawanan jenis kita boleh mencium bibirnya, tetapi di Indonesia hal tersebut sangat bertentangan dengan kesusilaan.
Oleh karena kebudayaan yang masuk tidak tersaring sepenuhnya menyebabkan lunturnya sopan santun. Sedangkan faktor internalnya ada pada diri sendiri, keluarga, lingkungan tempat nongkrong, lingkungan sekolah, ataupun media massa. Pengetahuan tentang sopan santun yang didapat disekolah mungkin sudah cukup tapi dilingkungan keluarga ataupun tempat tongkrongan dan media massa kurang mendukung tindakan sopan disemua tempat ataupun sebaliknya, sehingga membuat tindakan sopan yang dilakukan oleh anak-anak atau pun remaja hanya dalam kondisi tertentu. Misalnya penyebutan nama bagi yang umurnya lebih tua masih dianggap tidak sopan sehingga mereka memanggil mas, bang, aa, ataupun yang lain. Sedangkan dalam berpakaian atapun yang lain kurang diperhatikan. Saya sendiri tak memungkiri keadaan tersebut , kondisi lingkungan yang kurang peduli terhadap kesopanan, sehingga akhirnya pada saat-saat tertentu saja saya sopan. Seperti disekolah, ditempat kuliah ataupun di tempat-tempat formal yang lainnya. Keadaan ini seharusnya jangan sampai terjadi karena lama kelamaan akan menimbulkan hilangnya kebudayaan kita dan mungkin akhirnya kita tidak mempunyai kebudayaan sendiri.
Norma sopan-santun adalah peraturan hidup yang timbul dari hasil pergaulan sekelompok manusia di dalam masyarakat dan dianggap sebagai tuntunan pergaulan sehari-hari masyarakat itu. Norma kesopanan bersifat relatif, artinya apa yang dianggap sebagai norma kesopanan berbeda-beda di berbagai tempat, lingkungan, atau waktu.
Contoh-contoh norma kesopanan ialah:
1) Menghormati orang yang lebih tua.
2) Menerima sesuatu selalu dengan tangan kanan.
3) Tidak berkata-kata kotor, kasar, dan sombong.
4) Tidak meludah di sembarang tempat.
Sanksi bagi pelanggar norma kesopanan adalah tidak tegas, tetapi dapat diberikan oleh masyarakat berupa cemoohan, celaan, hinaan, atau dikucilkan dan diasingkan dari pergaulan serta di permalukan.
G. Menanamkan Sopan Santun Pada Anak
Seiring perkembangan jaman dan meluasnya pengaruh globalisasi, norma kesopan santunan merupakan hal yang semakin sulit diajarkan. Untuk itu, ada baiknya sejak dini, si kecil mulai diperkenalkan dengan perilaku sopan santun. Adapun, beberapa cara yang dapat dilakukan oleh ayah dan bunda dalam menularkan perilaku sopan santun kepada buah hati yaitu sebagai berikut :
1. Jadikan diri sendiri sebagai contoh
Karena pada masa ini, anak-anak sedang mengalami masa imitasi, dimana umumnya mereka meniru setiap perilaku orangtua.
2. Sampaikan apa yang diinginkan dari buah hati
Sampaikan secara langsung bila ayah atau bunda berkeinginan agar si kecil bersikap yang baik dan tidak rewel saat berkunjung ke rumah teman atau orang tua
3. Beri pujian
Bila anak telah bersikap sopan, tak ada salahnya memberi pujian.
4. Jangan paksa anak untuk menjadi sempurna
Bila Anda berharap terlalu banyak dari anak, bisa-bisa yang terjadi adalah “perang” dengan anak. Lakukan secara bertahap, sesuai perkembangan anak.
5. Jangan mempermalukan anak
Salah adalah hal biasa. Begitu pula jika anak melakukan kekeliruan yang menurut Anda tidak sopan. Beritahu anak kesalahannya dan katakan apa yang Anda harapkan. Jangan langsung memarahi atau mempermalukannya di depan orang lain.
H. Cara Mengajar Anak-anak harus Sopan (Be a role model for polite behavior)
Orang tua anak-anak sangat merugi bila mereka tidak mengajari anaknya bagaimana menjadi sopan. Guru, teman, tetangga dan keluarga sangat senang ketika anak-anak bersikap sopan untuk mereka dan benar-benar terganggu saat anak-anak tidak sopan. Pengajaran sopan santun memberikan anak-anak hidup penuh dengan penghargaan yang lebih besar untuk diri sendiri dan orang lain ketika mereka tumbuh dengan tata krama yang tepat dan penghargaan terhadap diri mereka sendiri dan orang-orang di sekitar mereka. Ini semua dimulai dengan dasar-dasar mengajar anak-anak untuk bersikap sopan dari usia muda.
Berikut adalah cara sederhana untuk mendapatkan anak-anak di jalan yang benar untuk bersikap sopan.
1) Be a role model for polite behavior (Jadilah teladan bagi perilaku sopan)
Apakah Anda pernah melihat jeritan anak-anak orang tua di kemudian berbalik dan mengharapkan mereka untuk bersikap sopan untuk orang dewasa? Ini tidak bekerja seperti itu. Pepatah lama bahwa anak-anak akan melakukan seperti yang Anda lakukan tidak seperti yang Anda katakan itu benar. Jika Anda ingin anak-anak untuk bersikap sopan Anda harus model bagi mereka perilaku sopan. Bicara dengan nada baik terhadap anak-anak dan membuat permintaan bukan ancaman. Hal ini tidak selalu mudah untuk bersabar dengan anak-anak, tetapi sebagai orang dewasa adalah tanggung jawab Anda untuk model perilaku yang sesuai.
2) Catch kids being good (Buatlah anak-anak menjadi baik).
Ketika Anda melihat anak-anak bersikap sopan kepada seseorang dengan baik seseorang berterima kasih untuk sesuatu atau meminta sesuatu dengan cara yang sopan, mengakuinya. Dengan cara itu, perilaku baik mereka mendapat perhatian dan mengakui mereka untuk jenis perilaku yang Anda harapkan. Ini memperkuat Anda menghormati dan kesadaran mereka sebagai individu dan mendorong mereka untuk berperilaku dengan cara serupa di masa mendatang.
3) Set appropriate boundaries and expectations for polite behavior (Menetapkan batas yang sesuai dan harapan untuk perilaku sopan).
Pahami bahwa anak-anak perlu diberitahu yang perilaku sopan yang diharapkan dari mereka. Di beberapa rumah, panggilan telepon untuk mengucapkan terima kasih atas hadiah ulang tahun sudah cukup. Di lain email atau catatan pribadi diharapkan. Jika seorang anak telah menyakiti perasaan someones, meskipun itu tidak apa maksudnya lakukan, masih mendorong dia untuk minta maaf atas perannya dalam segala kesalahpahaman. Semua orang membuat kesalahan dan tidak ada satu orang yang baik-baik saja atau semua salah. Tampilkan anak-anak apa yang diharapkan dalam hal perilaku sopan secara teratur juga. Anak-anak perlu batasan-batasan yang konsisten agar mereka akan tumbuh menjadi orang dewasa yang bijaksana dan sopan. Hanya karena anak-anak belajar untuk bersikap sopan itu tidak berarti mereka harus terus berjalan, namun. Ajarkan anak-anak untuk pergi dari orang-orang dan situasi yang tidak menunjukkan perilaku sopan kepada mereka dalam kembali. Dengan memungkinkan mereka untuk menghentikan perilaku tidak sopan yang ditujukan kepada mereka, mereka belajar pelajaran penting tentang perawatan diri dan harga diri.
4) (Connect with kids )Berhubungan dengan anak-anak.
Beberapa orang tua mengharapkan standar yang ketat tersebut untuk anak-anak mereka untuk bersikap sopan tetapi tidak pernah membiarkan mereka penjaga bawah dan bersenang-senang sedikit dengan mereka. Anak-anak dapat belajar bersikap sopan, tetapi mereka juga menghadapi risiko begitu dijaga bahwa mereka mulai dewasa ketidakpercayaan dan sopan dalam cara yang dangkal. Ketika Anda terhubung dengan anak-anak sementara Anda mengajarkan mereka untuk bersikap sopan Anda membuat ikatan yang kuat dan abadi dengan mereka. Mereka secara alami akan ingin mengadopsi perilaku sopan.
5) Describe the basics of polite behavior (Menjelaskan dasar-dasar perilaku sopan)
Menjaga perilaku pemodelan sampai menjadi tertanam pada anak. Mulai saat anak-anak balita . Tidak pernah terlalu dini untuk mulai mengajar anak-anak untuk bersikap sopan. Dasar-dasar perilaku sopan termasuk mengatakan silakan dan terima kasih ketika meminta sesuatu atau menerima sesuatu. Namun perilaku sopan juga termasuk jenis nada suara dan sikap yang menyenangkan.. Biarkan anak tahu bahwa orang-orang menghargai itu ketika seseorang baik kepada mereka. Anak-anak tumbuh menjadi lebih percaya diri dan memiliki harga diri yang lebih baik ketika mereka tahu dari usia dini apa yang diharapkan dari mereka. Anak-anak yang mulai belajar bagaimana menjadi sopan saat muda tumbuh menjadi orang dewasa sopan.
I. Mengasah Kecerdasan Sopan Santun
Kelak, anak yang dibiasakan bersikap sopan santun akan lebih mudah bersosialisasi dan mau mematuhi aturan umum di masyarakat. Orang tua memang dituntut untuk menularkan etiket pada anak. Namun, mengajarkan etiket tak bisa dilakukan dalam satu hari. Perlu proses yang cukup panjang dan harus dilakukan secara konsisten serta berkesinambungan agar hasilnya maksimal. Terkadang, meskipun orang tua sudah “bersusah payah” mendidik si kecil agar bersikap sopan, lingkungan di luar rumah justru memberikan model yang berlawanan. Ada juga yang menyikapi perilakunya secara permisif misalnya meng- izinkan si prasekolah merebut mainan anak lain tanpa meng- upayakan cara yang santun dan beranggapan, “Biarin aja begitu, namanya juga anak-anak. Nanti juga berubah kok sikapnya kalau sudah besar.” Nah, justru pemakluman seperti ini secara langsung maupun tidak mengakibatkan anak menerapkan perilaku tak sopan bahkan menganggap apa yang dilakukannya itu sah-sah saja. Alhasil, sikap tidak beretiket akan terus terbawa sampai besar.Kalau sudah begitu, akan sulit sekali untuk mengubah perilakunya.Sebenarnya ada beberapa hal penting yang mesti diperhatikan orang tua agar anak cerdas bertatakrama, yaitu:
1. Orang Tua Sebagai Model
Sekali lagi, pembentukan perilaku sopan santun sangat dipengaruhi lingkungan. Anak pasti menyontoh perilaku orang tua sehari-hari. Tak salahlah kalau ada yang menyebutkan bahwa ayah/ibu merupakan model yang tepat bagi anak. Di sisi lain, anak dianggap sebagai sosok peniru yang ulung. Lantaran itu, orang tua sebaiknya selalu menunjukkan sikap sopan santun. Dengan begitu, anak pun secara otomatis akan mengadopsi tata- krama tersebut. Asal tahu saja, pola pengajaran bertatakrama tentunya tidak semata berupa nasihat, akan tetapi juga perlu contoh.
Kemudian, orang tua juga mesti konsisten dan konsekuen menerapkan adab yang baik. Misalnya, ayah/ibu minta si prasekolah setiap makan di meja makan. Akan tetapi dia sendiri makan di ruang tengah sambil nonton teve atau sambil berdiri. Ya, tentunya takkan berefek maksimal. Mungkin saja si anak malah protes, “Kok ayah makannya sambil nonton teve, sih?
Yang perlu diwaspadai, anak dapat berperilaku berlawanan karena menyontoh orang lain baik yang sebaya ataupun lebih dewasa. Kalau sudah begitu, jelaskan pada si kecil dengan bahasa yang mudah dipahami kenapa sikap seperti itu dilarang dan tak baik dilakukan. Yang pasti jangan sambil marah-marah karena toh anak mungkin pada dasarnya tak tahu sikap yang dilakukannya itu baik atau buruk.
2. Mulai dari Hal yang Kecil
“Pengajaran” tatakrama sebaiknya dimulai dari kehidupan sehari-hari dan dari hal yang kecil. Anak dikenalkan mengenai aturan-aturan atau adab sopan santun. Kelak, kebiasan-kebiasan baik yang kadang luput dari perhatian ini akan terus dilakukan hingga dia besar.
Nah, berikut contoh-contoh sikap dasar yang perlu “ditularkan”, yaitu:
1) Mengucapkan terima kasih jika diberi sesuatu atau ketika si prasekolah dibawakan sesuatu baik oleh orang tua maupun orang lain. Sekaligus mengajarkan menghargai jerih payah orang lain.
2) Mengucapkan “maaf” jika bersalah. Mengajarkan sportivitas dan berani mengakui kesalahan.
3) Mengucapkan tolong ketika meminta diambilkan sesuatu, misalnya. Dengan begitu, anak belajar untuk menghargai pertolongan atau bantuan orang lain.
4) Menyapa, memberi salam atau mengucapkan permisi jika bertemu orang lain.
5) Mengajarkan pula perilaku ramah dan agar mudah bersosialisasi.
6) Mengajarkan adab menerima telepon. Sekaligus mengajarkan bagaimana berbudi bahasa yang baik. Dalam skala yang lebih luas, bagaimana bersikap di tempat umum, misalnya tidak berteriak-teriak, tidak memotong pembicaraan orang.
7) Mengajarkan privasi orang lain, misalnya mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke kamar tidur orang tua. Prinsip dasar sopan santun adalah menghargai hak dan perasaan orang lain. Ini akan menjadi dasar bagi anak untuk menjadi manusia yang beretika.
8) Etiket makan yang baik, tidak sambil jalan-jalan atau melakukan aktivitas lain. Sikap ketika makan di meja makan, tidak bersendawa atau makan sambil ngobrol, misalnya.
3. Jelas Tujuannya
Selain memberikan contoh yang baik, tentunya orang tua juga perlu menjelaskan pada si prasekolah kenapa harus menerapkan sopan santun. Misalnya, kalau anak berteriak-teriak atau lari kesana-kemari saat ayah/ibu menerima tamu tentu akan mengganggu konsentrasi dan pembicaraan. Di sisi lain, ayah/ibu pun jadi malu melihat tingkah-polah si anak. Sang tamu mungkin tak berkeberatan dengan sikap seperti itu, malah barangkali menganggap lucu. Akan tetapi, jika perilaku yang sama terus dilakukan efek jangka panjangnya cenderung negatif bagi si anak sendiri.
Barangkali si kecil juga tak tahu maksud harus mengucapkan terima kasih, maaf, salam dan sebagainya. Menjadi tugas orang tualah untuk menjelaskan alasan semua aturan atau tatakrama tersebut.
Nah, mengajak atau mengajarkan anak bersopan santun sekali lagi tidak perlu dengan cara yang keras. Namun upayakan dengan kelembutan sehingga anak betul-betul memahami maksud dan tujuan beretiket. Umumnya, anak yang baik dan bisa menghargai orang lain adalah anak yang tahu sopan santun. Sebagai sebuah proses, bagaimana pun orang tua perlu sabar hingga anak mengerti dan menerapkannya.
Kelak, anak yang dibiasakan dari kecil untuk bersikap sopan santun akan lebih mudah bersosialisasi. Dia akan mudah memahami aturan-aturan yang ada di masyarakat dan mau mematuhi aturan umum tersebut. Anak pun relatif mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, supel, selalu menghargai orang lain, penuh percaya diri, dan memiliki kehidupan sosial yang baik. Pen-dek kata, dia tumbuh menjadi sosok yang beradab.
4. Harus Sejak Dini
Mengenalkan dan mengajarkan tatakrama sebaiknya dilakukan sejak dini, setidaknya usia batita. Tentunya dikenalkan dari hal yang paling sederhana, seperti memberi salam, minta izin sebelum meminjam barang kakaknya, mengetuk pintu sebelum masuk kamar orang tua, dan sebagainya. Jangan menunggu mengenalkan adab atau etiket ketika anak sudah besar. Pun, jangan menyerahkan sepenuhnya perihal pengajaran sopan santun ini pada pihak sekolah. Toh, pembelajaran etiket atau tatakrama sebenarnya paling efektif dilakukan ayah dan ibu.(tabloid-nakita)
J. Sopan Santun Seorang Guru (‘alim)
Apabila kamu seorang guru (‘alim) maka penuhilah adab-adabmu sebagai guru (sehingga kamu di hormati oleh manusia di dunia dan di muliakan allah di akherat). Adab-adab/sopan santun bagi guru ada sebagai berikut :
1. Bertanggung jawab atas beban yang di pikulnya. Dia sadar bahwa ia sebagai guru tidak hanya mengajar tetapi juga mendidik, memberikan contoh dan tauladan yang baik.
2. Bersabar dalam segala hal.
3. Bertindak atau bersikap ‘arif, bijaksana, tidak angkuh terhadap sesama dan mempunyai sikap merendah diri.
4. Tidak boleh takabbur terhadap siapapun, kecuali terhadap orang yang zholim yang harus di sselesaikan dengan jalan di takkaburi.
5. Bersikap tawadhu’ dalam setiap majlis dan perkumpulan, dan menampakkan rasa cinta kepada sesama dan merendah diri.
6. Meninggalkan atau menjahui banyak bercanda, senda gurau, omongan yang carut marut dan sembrono.
7. Menaruh dan menampakkan rasa cinta kasih, bijak terhadap anak didiknya (muridnya), dan bijaksana dalam membimbing baik terhadap murid yang sok pintar atau murid yang bodoh.
8. Tidak memarahi murid yang bodoh/bebal, keras kepala sehingga menampakkan keengganan mendidik.
9. Memperhaikan pendapat alasan orang lain, menerima pendapat seseorang bila benar dan mau mengakui kekhilafannya.
10. Mencegah murid-muridnya untuk menuntut ilmu yang membahayakan bagi dirinya.
11. Mencegah atau melarang murid-muridnya yang mempergunsakan ilmunya untuk hal-hal yang tidak di ridhoi Allah SWT.
12. Memberikan pengarahan kepada murid-muridnya untuk mempelajari ilmu yang wajib ‘ain dulu sebelum mempelajari ilmu yang wajib kifayah; sebab mempelajari ilmu yangt wajib ‘ain itu lebih penting untuk membina akhlak batin menujunkepada taqwa.
13. Harus memperbaiki dan menata dirinya sendiri terlebih dahulu, sebelum memperbaiki dan menata anak didiknya. Apabila ia memerintahkan sesuatu untuk di kerjakan maka dia harus terlebih dulu mengerjakannya, demikian juga kalau ia melarang sesuatu, maka ia harus terlebih dulu menjahuinya.

http://www.ehow.com/how_2282832_teach-kids-be-polite.html

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 18, 2011 in Uncategorized

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: